Filsafat Ilmu Pertemuan ke 11
Lupa dan Ingatan dalam Filsafat
Selasa, 22 Desember 2015, kami mengikuti perkuliahan
Prof. Marsigit di ruang aula gedung Pascasarjana baru UNY pukul 15.00. Bapak
Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk
mengikuti proses perkuliahan. Kuliah pada hari sangat berbeda seperti biasanya
karena baru kali ini kami mengikuti kuliah Bapak di sore hari. Kuliah hari ini
merupakan kuliah pengganti karena Rabu besok Bapak tidak memberi perkuliahan.
Pertemuan kali ini beliau membahas tentang lupa dan
ingatan. Dalam filsafat lupa itu berdimensi. Bagi yang memikirkan berdimensi
maupun yang dipikirkan juga berdimensi. Jika lupa itu dijalankan maka lupa itu
diintensifkan lupa formal material spiritual. Kalau diekstensikan, lupa disini
lupa disana, lupa kemarin, lupa yang akan datang, lupa sekarang. Lupa itu dari
sisi filsafat ada epistimologis, ontologis dan aksiologisnya. Itulah yang
disebut dunianya lupa. Beliau mengatakan bahwa jika dewa yang lupa adalah
bijaksana namun jika daksa yang lupa, maka disebut bodoh. Dari segi psikologis
lupa ada unsur genetika, yang dalam arti mekaniknya yaitu otak, memori,
ingatan. Sama halnya dengan sebuah komputer yang memiliki komponen yaitu ALU (arithmetic logical unit), storage unit, dan control unit. Memori ada dua macam yaitu RAM dan ROM. Ingatan itu
bermacam- macam, ingatan ada yang netral, dari segi strukturnya, ingatan itu
adalah wadah dan isi.
Ingatan kita itu ada yang sifatnya berstruktur. Contohnya
ketika mengingat rumus yang ada dalam sebuah buku. Ada yang mengingat tentang
denah dari gedung. Dari segi bahasa, bahasa singular dan plural, kalimat
majemuk. Namun lupa itu juga merupakan sebuah anugrah karena jika orang tidak
bisa melupakan sesuatu maka dia disebut tidak sehat. Contohnya ketika memiliki
masa lalu yang buruk tetap terus diingat sehingga membuatnya ketakutan, gelisah
dsb. Padahal hal tersebut seharusnya dijadikan pelajaran untuk masa depan agar
tidak terulang kembali sehingga kita dapat menata hidup. Beda halnya ketika
kita berdoa jangan pernah sekali-kali kita ingat. Karena jika ingat, maka kita
akan sombong. Bagaiman tidak? Jika dalam doa kita ingat maka akan muncul begitu
banyak “aku” sehingga membuat doa tidak khusyuk dan tentu kecil kemungkinan
untuk dikabulkan. Sesungguhnya doa itu milik Tuhan. Manusia itu berusaha untuk
berdoa. Beda halnya kita ketika menghadapi sebuah tes. Dalam hal ini sangatlah
diperlukan karena membantu kita untuk memperoleh skor sesuai dengan harapan
kita. Ingatan itu ada di pikiran. Maka dari itu ingatan dan lupa itu saling
melengkapi.
Namun ingatan manusia itu juga bisa tereduksi. Misalnya
ketika kita mengingat momen penting hari ini seringkali kita melupakan hal-hal
terdahulu yang sebenarnya juga penting untuk diingat. Contohnya sejarah
terdahulu bangsa Indonesia maka dari itu presiden Soekarno pernah mengatakan
Jasmerah yang artinya jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ingat dan lupa itu
dinamis. Secara psikologi, konteks itu penting untuk orang menjadi ingat karena
ingat dan lupa itu merupalan struktur dunia. Dalam dunia pendidikan khususnya
yang berkaitan dengan pembelajaran, struktur ingatan itu diatasnya ada memahami
teori yaitu teori taksonomi bloom. Tak hanya sekedar ingatan, namun
menginformasikan, mengajar sehingga ingatan itu bisa terkoneksi dengan hal-hal
yang berkaitan dengannya dengan cara menambah pengalaman sehingga ingatan
tersebut membentuk struktur yaitu struktur ingatan. Jika kita berbicara tentang
kurikulum 2013 pertanyaannya adalah apakah semua mata pelajaran harus
menggunakan metode saintifik? Tidak semua mata pelajaran bisa menggunakan
metode saintifik. Misalnya pada matematika juga masih sulit untuk menggunakan
metode tersebut. Sebenarnya metode yang akan digunakan dalam pembelajaran
diserahkan pada para pendidik.
Diakhir beliau menyampaikan bahwa hidup itu tak lepas
dari yang namanya lupa, pikiran kita ibarat sebuah memori yang dalam dalam
mesin. Ketika mesin itu datanya dihapus, ada tempat yang dapat merecovery data
tersebut. Ada cara untuk mengingatkn kembali tentang hal yang dilupakan. Namun
perlu kita ketahui bahwasanya seseorang lupa itu merupakan sebuah anugrah yang
harus disyukuri. Manusia sebenarnya hidup sempurna dalam ketidaksempurnaan.
Dalam kehidupan ada pikiran yang didalamnya terdapat unsur lupa. Apa yang ada
dan yang mungkin ada dalam hidup ini patut disyukuri, karena semua itu
merupakan anugrah dari-Nya yang didalamnya terdapat rahasia tersembunyi yang
disiapkan untuk kita namun satu hal yang perlu diketahui semua yang diberikan pada
kita adalah untuk kebaikan.
0 komentar:
Posting Komentar