Senin, 28 Desember 2015

Filsafat Ilmu Pertemuan ke-10



Filsafat Ilmu Pertemuan ke-10
“Kesempatan Bertanya”

Rabu, 2 Desember 2015, seperti biasa kami mengikuti perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk mengikuti proses perkuliahan. Hari ini beliau kembali mengadakan tes jawab singkat. Tes jawab singkat kali ini berbeda karena setelah selesai tes jawab singkat sesi koreksi kami semua diminta menyalahkan semua jawaban kami. Nilai sudahlah tentu kami mendapat 0. Ternyata ada maksud tersendiri dari sikap bapak ini.dan bapak pun mulai menjelaskan. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya tes jawab singkat itu adalah mitosnya bagi kami semua. Maksud bapak Marsigit mengemukakan nilai 0 seperti ini untuk menyempurnakan, sehingga tidak ada yang memiliki nilai-nilai yang lain. Bapak menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu disombongkan, dalam tanya jawab singkat itu sebenarnya berupa penjelasan dengan bahasa kita sendiri. Menurut bapak, tes tanya jawab seperti ini bukan jalannya filsafat. Filsafat itu membaca dan olah pikir sehingga bapak meminta untuk membaca elegi dengan ikhlas pikir dan ikhlas hati.
Dalam ilmu terdapat kontradiksi. Dalam soal tes tanya jawab, terdapat identitas dan identitas masyarakat. Alasan jawaban kami disalahkan karena memang belum sampai pada dimensinya. Maka, pada saat ini juga kami diminta untuk bertanya seputar tes tanya jawab tadi. Berikut ini jawaban beberapa pertanyaan tersebut. Fatalnya vital, vital itu diartikan sebagai ikhtiar, sedangkan fatalnya adalah doa. Mereka ada dalam satu rangkaian. Doa itu kontekstual dengan ruang dan waktu. Ikhtiarnya doa, berusaha kemudian berdoa seperti ingin naik haji maka harus mendaftar terlebih dahulu. Seperti itulah contoh dari fatalnya vital. Beliau juga mengatakan bahwa dalam melakukan sesuatu itu penting untuk menyebut nama Tuhan.
Selanjutnya sikliknya linear, linearnya siklik, linearnya itu tidak akan bergerak pada tempat yang sama. Begitu pula, lingkaran itu juga tidak selalu pada tempat yang sama. Hari selalu berjalan, waktu pun juga berjalan dan tidak mungkin tidak ada perubahan dari hari ke hari selanjutnya. Intensifnya ekstensif, ekstensifnya intensif. Pengertian dalam ontologinya itu diuraikan seluas-luasnya. Intensifnya itu radik, artinya filsafat itu bisa dieksplorasi sedalam-dalamnya. “Rasionalnya pengalaman”, memikirkan pengalaman. ‘Pengalamannya rasional”, dimana ketika kita memikirkan ingin melakukan sesuatu, maka lakukanlah sesuatu itu dan jangan ditunda.
Dewanya daksa. Subjek dan predikat tidak bisa saling dipisahkan. Jadi ibaratnya “jika aku ada, maka engkau juga ada”. Disharmoninya harmoni, harmoninya disharmoni. Sebenar-benarnya kebahagian manusia yaitu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan absolut. Manusia itu hidup sempurna dalam ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan juga ada dalam kesempurnaan. Jika kesempurnaan itu ada dalam kesadaran, maka akan tidak bebas dalam hidup kita karena terlalu menyadari semua sesuatu yang terjadi pada diri sendiri.
Kemudian analitiknya sintetik yaitu memikirkan pengalaman. Analitik itu logika, sintetik itu pengalaman. Sintetik merupakan pasangan dengan apriori. Membaca elegi termasuk melaksanakan filsafat. Membaca yang membuat kita berpikir itu berarti kita bisa berfilsafat. “Identitasnya kontradiksi, kontradiksinya identitas” dapat dicontohkan dengan A yang ada pada ruas kiri sama dengan A+1. Prinsip ini ada pada ilmu komputer, jika tidak ada rumus ini maka program pada komputer pun tidak akan berproses. Sehingga identitas ini mengalami kontradiksi karena sifat itu termuat kedalam subjeknya. Kontradiksi di dalam dunia ini adalah kuasa Tuhan, karena kuasa Tuhan itu absolut. Tak ada yang bisa melawan-Nya. Karena terjadi seperti itu, maka sebenarnya manusia itu kontradiksi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About