Filsafat Ilmu Pertemuan ke 5
“Sekilas Penjelasan”
Rabu, 21 Oktober 2015 perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul
07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap -
siap untuk mengikuti tes tanya jawab singkat. Tes ini seperti biasa, dengan
pertanyaan sebanyak 50, kami menjawabnya secara langsung dalam waktu beberapa
detik. Kemudian, kami mencocokkan jawaban dengan jawaban bapak Marsigit. Kami
membahas tentang salah dan benar dalam filsafat. Salah dan benar itu hanya satu
titik kecil dalam filsafat. Benar dan salah itu diposisikan dalam keseluruhan
daripada membangun pola pikir dalam berfilsafat. Unsur benar dan salah itu
adalah suatu struktur yang ada di dalamnya. Contoh, ketika kami tes jawab
singkat, awal dari kata-kata bapak sudah menyebutkan kata "wadah".
Yang artinya, semua yang ada di dalamnya merupakan tentang wadah, sehingga
filsafatnya tentang wadah juga. Benar dan salah itu sebanyak pikiran para
filsuf. Pandangan yang menyatakan yang benar itu yang tetap menurut Fermelides.
Heracritos menyatakan bahwa yang benar itu adalah yang berubah. Jadi, wadah,
batu, manusia, salah, benar, itu semua menjadi "yang ada" dan "yang
mungkin ada"dimana yang menjadi kajian dalam berfilsafat.
Filsuf pertama hingga saat ini selalu saja "yang
benar" itu yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Benarnya
matematika itu konsisten, benarnya pengalaman itu kecocokan, benarnya logika
itu konsisten, benarnya para dewa itu transenden, dan benarnya Tuhan itu absolut.
Itulah perbedaan ruang dan waktu. Sesuai dengan Fermelides, kita bisa melihat
apa yang tetap dalam diri kita. Salah dalam filsafat itu ketika tidak sesuai
dengan ruang dan waktu. Contoh riil yang terjadi di sekitar kita, ketika kita
bertanya pada guru matematikahasil dari 5x4 pasti akan dijawab 20 tetapi lain
halnya ketika kita bertanya pada penjual tanah 5x4 hasilnya 2500000. Contoh
tersebut menggambarkan bahwa kita harus adil dengan "yang ada" dan
"mungkin ada" di dalam pikiran kita. Dalam hal ini, jika salah
memutuskan dalam pandangan filsafat adalah tidak sopan terhadap ruang dan
waktu. Untuk itu dalam hidup kita juga harus bijaksana terhadap ruang dan waktu
dengan dilandasi spiritual. Landasan spiritual bertujuan untuk membahagiakan
kita lahir dan batin, dunia dan akhirat. Manusia memiliki akal dan pikiran
dituntun oleh spiritual berbeda dengan yang lain. Jika binatang dituntun dengan
instingnya, sedangkan batu memiliki potensi. Maka manusia itu fatal dan vital,
fatal merupakan kodratnya, vital merupakan potensinya. Potensi manusia adalah ikhtiar.
Manusia memiliki potensi, naluri, dan insting sehingga manusia memiliki
intuisi, jika manusia cerdas, maka itu semua ditambah dengan kompetensi. Dalam
filsafat, ada yang disebut skeptisme. menghindari skeptisme itu tidaklah bisa.
Lebih baik membangun dunia yang komprehensif yang memiliki solusi dengan ilmu
filsafat yang kita pelajari, daripada menghindar. Persoalan itu harus dihadapi
dan diselesaikan dengan hati dan pikiran yang bersih, bukan malah dihindari.
Bagi seorang filsuf yang hebat tidak akan mengakui
bahwa dirinya adalah seorang filsuf. Seseorang yang mengaku sebagai filsuf,
bisa saja itu adalah penipu. Nilai kebajikan seorang filsuf sama seperti
seorang kiai terkenal. Bahkan, filsuf yang paling hebat pun merasa sedang
belajar filsafat. Yang mengatakan adalah orang lain. Daripada bertanya, lebih
baik mempelajari pendapat-pendapat para filsuf. Berfilsafat itu
"meta" di sebaliknya yang tampak. Tidak untuk anak kecil tetapi orang
dewasa juga perlu sopan terhadap anak kecil dan orang hamil.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa benar dan salah dalam
filsafat itu adalah sesuai, serta sopan terhadap ruang dan waktu. Selain sopan
terhadap ruang dan waktu, manusia perlu membangun potensinya untuk membangun
dunia yang komprehensif dan cerdas dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan
tanpa menghindarinya. Seorang filsuf bukanlah yang mengakui dirinya sendiri,
namun seorang filsuf itu sebutan untuk orang yang menggagas pendapatnya,
sehingga ada orang yang menanggapi dan menyetujui serta ada pula yang
membantahnya, itulah sebenar-benarnya berfilsafat. Dalam menghadapi persoalan,
kita memerlukan landasan yaitu filsafat dan spiritual. Dua landasan tersebut
dijadika pedoman untuk kita mendapat arah dan tujuan yang jelas, seimbang
antara dunia dan akhirat.
0 komentar:
Posting Komentar