Filsafat Ilmu Pertemuan ke 8
“Apa yang Seharusnya Kita Lakukan
Saat Ini”
Rabu, 11 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di
ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Memasuki materi, beliau menyampaikan
bahwa filsafat itu intensif dan ekstensif, dipengaruhi oleh ada, pengada, dan
mengada. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk menyikapi powernow pada saat ini
kita harus menghadapi dengan cara berfilsafat. Ada yang namanya scientific, dimana
ukuran metode scientific itu sepertiga dari dunia. Fenomena menukik, intensif
itu meneliti. Ada fenomena lain yaitu mendatar, misalkan hari rabu ini bertemu
dengan hari rabu lagi. Sedangkan fenomena powernow itu dengan fenomena linear
namun tidak mengetahui sampai mana garis tersebut. Adapun yang dibangun dalam
diri kita, misalkan, inner beauty, kecantikan, doa.
Metode saintifik yang berkembang di Indonesia yang
terdiri dari aspek mengamati, menanya, dan mencoba, mengasosiasi dan
mengkomunikasikan. Namun metode saintifik tidak bisa digunakan dalam hidup,
misalnya metode saintifik tidak bisa digunakan untuk menikah. Pada metode
saintifik yang sebenarnya ada aspek hipotesis dihilangkan dari struktur.
Hipotesis itu berpendapat, setelah berpendapat kemudian dicoba. Metode
pembelajaran itu harus diatur secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan,
tidak bisa sembarangan. Indonesia itu negara kecil dan lemah, sehingga menjadi
cabang powernow. Maka pejabat sekarang itu tidak mempedulikan budi pekerti dan
mementingkan diri sendiri. Satu sama lain bisa saja saling menjajah, demokrasi
hanyalah slogan namun uang tetap berjalan serta korupsi merajalela.
Fenomena Compte, contohnya alam diri kita sendiri,
handphone kita tidak hanya satu, namun ada lebih dari satu. Dengan adanya
teknologi ada fenomena tecnopolly, menyerahnya budaya di telapak kaki
teknologi. Orang bisa merekayasa budaya baru untuk kepentingannya. Semua orang
mengikuti teknologi, memiliki hp baru kecuali orang sufi. Oleh karena itulah,
Indonesia termasuk darurat budi pekerti. Negara kita kalau digambarkan seperti
anak ayam dan negara adikuasa digambarkan oleh burung rajawali. Jadi, sekali
saja anak ayam itu melawan, akan terkena pukulan kaki burung rajawali. Artinya
negara Indonesia itu masih tergolong kecil dan kurang kuat.
Selain menjelaskan hal diatas beliau juga menjelaskan
seorang individu yang bersifat kaku.
Kaku itu tidak flexibel sehingga kesulitan menembus ruang dan waktu. Kaku ini
mungkin dia memiliki prinsip. Prinsip adalah postulat dan sesuai konteks ruang
dan waktunya. Misalnya, masuk rumah harus mencuci kaki atau tangan dulu. Jika
diterapkan absolut, bisa menjadi masalah, karena kaku itu dimensinya tunggal,
berusaha tertutup oleh ruang dan waktu. Beliau menyampaikan bahwa sebenar-benarnya
orang kaku bisa disebut dengan orang yang bodoh daan tidak cerdas. Pikirannya
juga seperti batu dan tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Oleh karena itu,
pentingnya komunikasi dan luwes sehingga sopan yang sebenarnya itu luwes serta
bisa memahami orang lain.
Dari penjelasan Bapak hari ini saya mengambil
kesimpulan bahwa sebuah metode itu tidak semuanya dapat digunakan. Sama seperti
kita belajar teori yang disampaikan guru di kelas, belum tentu teori itu bisa
digunakan pada kehidupan nyata sehingga membuat terjadinya kontradiksi. Oleh
sebab itu, kita harus pandai dalam menyaring hal yang baik dan yang tidak baik untuk
diri kita, jangan sampai kita mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang bisa
merusak diri sendiri. Hal yang dapat membentengi kita dari pengaruh buruk
adalah senantiasa ikhtiar pada-Nya, meminta perlindungan pada-Nya karena
sesungguhnya hanya Allah SWT yang kuasa atas semua yang ada di dunia ini.
0 komentar:
Posting Komentar