Kamis, 19 November 2015

FILSAFAT ILMU PERTEMUAN KE 8



Filsafat Ilmu Pertemuan ke 8
“Apa yang Seharusnya Kita Lakukan Saat Ini”

Rabu, 11 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Memasuki materi, beliau menyampaikan bahwa filsafat itu intensif dan ekstensif, dipengaruhi oleh ada, pengada, dan mengada. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk menyikapi powernow pada saat ini kita harus menghadapi dengan cara berfilsafat. Ada yang namanya scientific, dimana ukuran metode scientific itu sepertiga dari dunia. Fenomena menukik, intensif itu meneliti. Ada fenomena lain yaitu mendatar, misalkan hari rabu ini bertemu dengan hari rabu lagi. Sedangkan fenomena powernow itu dengan fenomena linear namun tidak mengetahui sampai mana garis tersebut. Adapun yang dibangun dalam diri kita, misalkan, inner beauty, kecantikan, doa.
Metode saintifik yang berkembang di Indonesia yang terdiri dari aspek mengamati, menanya, dan mencoba, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Namun metode saintifik tidak bisa digunakan dalam hidup, misalnya metode saintifik tidak bisa digunakan untuk menikah. Pada metode saintifik yang sebenarnya ada aspek hipotesis dihilangkan dari struktur. Hipotesis itu berpendapat, setelah berpendapat kemudian dicoba. Metode pembelajaran itu harus diatur secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak bisa sembarangan. Indonesia itu negara kecil dan lemah, sehingga menjadi cabang powernow. Maka pejabat sekarang itu tidak mempedulikan budi pekerti dan mementingkan diri sendiri. Satu sama lain bisa saja saling menjajah, demokrasi hanyalah slogan namun uang tetap berjalan serta korupsi merajalela.
Fenomena Compte, contohnya alam diri kita sendiri, handphone kita tidak hanya satu, namun ada lebih dari satu. Dengan adanya teknologi ada fenomena tecnopolly, menyerahnya budaya di telapak kaki teknologi. Orang bisa merekayasa budaya baru untuk kepentingannya. Semua orang mengikuti teknologi, memiliki hp baru kecuali orang sufi. Oleh karena itulah, Indonesia termasuk darurat budi pekerti. Negara kita kalau digambarkan seperti anak ayam dan negara adikuasa digambarkan oleh burung rajawali. Jadi, sekali saja anak ayam itu melawan, akan terkena pukulan kaki burung rajawali. Artinya negara Indonesia itu masih tergolong kecil dan kurang kuat.
Selain menjelaskan hal diatas beliau juga menjelaskan seorang individu  yang bersifat kaku. Kaku itu tidak flexibel sehingga kesulitan menembus ruang dan waktu. Kaku ini mungkin dia memiliki prinsip. Prinsip adalah postulat dan sesuai konteks ruang dan waktunya. Misalnya, masuk rumah harus mencuci kaki atau tangan dulu. Jika diterapkan absolut, bisa menjadi masalah, karena kaku itu dimensinya tunggal, berusaha tertutup oleh ruang dan waktu. Beliau menyampaikan bahwa sebenar-benarnya orang kaku bisa disebut dengan orang yang bodoh daan tidak cerdas. Pikirannya juga seperti batu dan tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Oleh karena itu, pentingnya komunikasi dan luwes sehingga sopan yang sebenarnya itu luwes serta bisa memahami orang lain.
Dari penjelasan Bapak hari ini saya mengambil kesimpulan bahwa sebuah metode itu tidak semuanya dapat digunakan. Sama seperti kita belajar teori yang disampaikan guru di kelas, belum tentu teori itu bisa digunakan pada kehidupan nyata sehingga membuat terjadinya kontradiksi. Oleh sebab itu, kita harus pandai dalam menyaring hal yang baik dan yang tidak baik untuk diri kita, jangan sampai kita mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang bisa merusak diri sendiri. Hal yang dapat membentengi kita dari pengaruh buruk adalah senantiasa ikhtiar pada-Nya, meminta perlindungan pada-Nya karena sesungguhnya hanya Allah SWT yang kuasa atas semua yang ada di dunia ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About