Senin, 15 Februari 2016

Tugas 1 Matematika Model




MATEMATIKA MODEL
KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN
(FILSAFAT YUNANI-KONTEMPORER)


disusun guna melengkapi tugas matakuliah Matematika Model

Dosen pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A.




Disusun oleh:
 SRI SURYANINGTYAS             (15709251075)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016


KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN
(FILSAFAT YUNANI-KONTEMPORER)

      Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
Belajar adalah sebuah proses yang terjadi pada manusia dengan berpikir, merasa, dan bergerak untuk memahami setiap kenyataan yang diinginkannya untuk menghasilkan kecakapan  atau pengetahuan ,sebuah perilaku, pengetahuan, atau teknologi atau apapun yang berupa karya dan karsa manusia tersebut untuk menjadi yang lebih baik ke depan. Belajar berarti sebuah pembaharuan menuju pengembangan diri individu agar kehidupannya bisa lebih baik dari sebelumnya. Belajar pula bisa berarti adaptasi terhadap lingkungan dan interaksi seorang manusia dengan lingkungan tersebut.
Pemikiran manusia dari zaman ke zaman selalu berubah, mengalami perkembangan. Begitu pula dengan konstruktivisme. Kata tersebut tidak asing lagi bagi kita. Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Indonesia berarti paham atau aliran. Dalam konstruktivisme pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan telah ditangkap manusia itu sendiri. Jadi pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamatan tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman sejauh yang dialaminya. Proses konstruksi pengetahuan berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru. Suatu ilmu pengetahuan setelah mengalami proses yang cukup lama menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan keseharian. Namun sebelumnya tentu dilakukan penyempurnaan agar pengetahuan itu dapat diterima khalayak umum.
Konstruktivisme tidak dapat lepas dari peran Piaget yang merupakan psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar dimana teori itu dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang biologi. Yang kemudian dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Struktur pemikiran manusia sama seperti organisme yang mempertahankan dirinya di lingkungan. Keadaan lingkungan yang senantiasa berubah menuntut organisme itu memikirkan cara bagaimana dia dapat bertahan. Berhadapan dengan pengalaman, tantangan, gejala dan skema pengetahuan yang telah dipunyai seseorang ditantang untuk menanggapinya. Dalam menanggapi pengalaman baru itu skema pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula berubah total. Pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik pengalaman fisis maupun pengalaman mental.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan semakin banyak ahli yang bermunculan berkaitan dengan asal-usul konstruktivisme.
Menurut Von Glasersfeld pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Gagasan pokok konstruktivisme sudah dimulai oleh Gimbatista Vico, epistemologi dari Italia. Pada tahun 1970, Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Dia menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti ‘mengetahui bagaimana membuat sesuatu’. Bagi Vico pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang dibentuk. Lain halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus menunjuk kepada kenyataan luar. Namun karena teori ini tidak dapat membuktikan kebenarannya sehingga gagasannya tidak dikenal orang. Kemudian Piaget yang mencoba meneruskan estafet gagasan konstruktivisme, terutama dalam proses belajar. Gagasan Piaget ini lebih cepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan Vico. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme menjadi jalan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara lebih leluasa, asalkan metode yang disusun dapat dipertangungjawabkan kebenarannya.
Prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Prinsip ini sesuai dengan keadaan bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki intuisi sendiri-sendiri dan intuisi itu sangat erat dengan kehidupan mereka. Pengetahuan dan pengalaman sebelumnya yang telah dimiliki seseorang dijadikan suatu pengetahuan awal untuk mengembangkannya menjadi pengetahuan baru. Secara umum prinsip itu berperan sebagai referensi dan alat refleksi terhadap praktek, pembaruan dan perencanaan pendidikan sains dan matematika. Prinsip yang diambil dari konstruktivisme diantaranya (i) pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif, (ii) tekanan dalam proses belajar terletak pada peserta didik, (iii) mengajar adalah membantu peserta didik belajar, (iv) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan hasil, (v) kurikulum menekankan partisipasi peserta didik, dan (vi) guru adalah fasilitator. Hal yang tetap harus diperhatikan adalah kesiapan lingkungan belajar, baik pendidik, lingkungan, sarana prasarana dan pendukung lainnya. Dengan harapan tidak keluar jalur dari apa yang direncanakan karena peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksinya tidak sesuai dengan hasil konstruksi para ilmuwan. 
Siswa mewakili beragam latar belakang, cara berpikir dan perasaan yang berbeda. Jika kelas tersebut dapat menjadi zona netral di mana para siswa dapat berbagi pandangan pribadi dan orang lain untuk secara kritis menilai setiap siswa dapat membangun pemahaman berdasarkan bukti empiris. Sebagai filsafat, konstruktivisme dapat menyebabkan konstruksi sendiri ide, dalam hal struktur dan asosiasi yang mungkin bisa digali. Teori tujuan ini yang memperkenalkan kesadaran meta kritis dan memiliki orientasi konstruktivis untuk belajar yang unik karena terletak siswa individu sebagai keseluruhan, bukan dirasakan sedikit sepintas dari esensinya. Konstruktivisme adalah versi modern dari anatomi manusia, dalam arti bahwa hal itu bergantung pada menawarkan ide-ide, kemauan untuk belajar, mekanisme dan struktur mental.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About