MATEMATIKA MODEL
KONSTRUKTIVISME DALAM
PEMBELAJARAN
(FILSAFAT YUNANI-KONTEMPORER)
disusun guna
melengkapi tugas matakuliah Matematika Model
Dosen pengampu : Prof.
Dr. Marsigit, M.A.
Disusun oleh:
SRI SURYANINGTYAS (15709251075)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016
KONSTRUKTIVISME DALAM
PEMBELAJARAN
(FILSAFAT
YUNANI-KONTEMPORER)
Filsafat adalah studi tentang
seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan
dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan
ke dalam sebuah proses dialektika. Filsafat pendidikan merupakan aplikasi
filsafat dalam pendidikan. Pendidikan membutuhkan filsafat karena
masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang
dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta
lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan,
dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
Belajar adalah sebuah proses yang terjadi pada
manusia dengan berpikir, merasa, dan bergerak untuk memahami setiap kenyataan
yang diinginkannya untuk menghasilkan kecakapan atau pengetahuan ,sebuah
perilaku, pengetahuan, atau teknologi atau apapun yang berupa karya dan karsa
manusia tersebut untuk menjadi yang lebih baik ke depan. Belajar
berarti sebuah pembaharuan menuju pengembangan diri individu agar
kehidupannya bisa lebih baik dari sebelumnya. Belajar pula bisa berarti
adaptasi terhadap lingkungan dan interaksi seorang manusia dengan lingkungan
tersebut.
Pemikiran
manusia dari zaman ke zaman selalu berubah, mengalami perkembangan. Begitu pula
dengan konstruktivisme. Kata tersebut tidak asing lagi bagi kita. Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv
dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan
membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Indonesia berarti paham atau aliran. Dalam konstruktivisme
pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan telah ditangkap manusia itu
sendiri. Jadi pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamatan tetapi
merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman sejauh yang
dialaminya. Proses konstruksi pengetahuan berjalan terus menerus dengan setiap
kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru. Suatu
ilmu pengetahuan setelah mengalami proses yang cukup lama menjadi sebuah ilmu
pengetahuan yang dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan keseharian. Namun
sebelumnya tentu dilakukan penyempurnaan agar pengetahuan itu dapat diterima
khalayak umum.
Konstruktivisme tidak dapat lepas
dari peran Piaget yang merupakan psikolog pertama yang menggunakan filsafat
konstruktivisme dalam proses belajar dimana teori itu dipengaruhi oleh
keahliannya dalam bidang biologi. Yang kemudian dikenal dengan teori adaptasi
kognitif. Struktur pemikiran manusia sama seperti organisme yang mempertahankan
dirinya di lingkungan. Keadaan lingkungan yang senantiasa berubah menuntut
organisme itu memikirkan cara bagaimana dia dapat bertahan. Berhadapan dengan
pengalaman, tantangan, gejala dan skema pengetahuan yang telah dipunyai
seseorang ditantang untuk menanggapinya. Dalam menanggapi pengalaman baru itu
skema pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula berubah
total. Pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik pengalaman fisis maupun
pengalaman mental.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan semakin banyak ahli yang bermunculan berkaitan dengan asal-usul konstruktivisme.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan semakin banyak ahli yang bermunculan berkaitan dengan asal-usul konstruktivisme.
Menurut Von Glasersfeld pengertian
konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang
secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Gagasan pokok
konstruktivisme sudah dimulai oleh Gimbatista Vico, epistemologi dari Italia.
Pada tahun 1970, Vico dalam De
Antiquissima Italorum Sapientia mengungkapkan filsafatnya dengan berkata,
“Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Dia
menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti ‘mengetahui bagaimana membuat sesuatu’.
Bagi Vico pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang dibentuk. Lain
halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus
menunjuk kepada kenyataan luar. Namun karena teori ini tidak dapat membuktikan kebenarannya
sehingga gagasannya tidak dikenal orang. Kemudian Piaget yang mencoba
meneruskan estafet gagasan konstruktivisme, terutama dalam proses belajar.
Gagasan Piaget ini lebih cepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan Vico. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme menjadi jalan untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan secara lebih leluasa, asalkan metode yang disusun dapat
dipertangungjawabkan kebenarannya.
Prinsip konstruktivisme telah banyak
digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Prinsip ini sesuai dengan
keadaan bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki intuisi sendiri-sendiri dan
intuisi itu sangat erat dengan kehidupan mereka. Pengetahuan dan pengalaman
sebelumnya yang telah dimiliki seseorang dijadikan suatu pengetahuan awal untuk
mengembangkannya menjadi pengetahuan baru. Secara umum prinsip itu berperan
sebagai referensi dan alat refleksi terhadap praktek, pembaruan dan perencanaan
pendidikan sains dan matematika. Prinsip yang diambil dari konstruktivisme
diantaranya (i) pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif, (ii) tekanan
dalam proses belajar terletak pada peserta didik, (iii) mengajar adalah membantu
peserta didik belajar, (iv) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses,
bukan hasil, (v) kurikulum menekankan partisipasi peserta didik, dan (vi) guru
adalah fasilitator. Hal yang tetap harus diperhatikan adalah kesiapan
lingkungan belajar, baik pendidik, lingkungan, sarana prasarana dan pendukung
lainnya. Dengan harapan tidak keluar jalur dari apa yang direncanakan karena
peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil
konstruksinya tidak sesuai dengan hasil konstruksi para ilmuwan.
Siswa mewakili beragam
latar belakang, cara berpikir dan perasaan yang berbeda. Jika kelas tersebut
dapat menjadi zona netral di mana para siswa dapat berbagi pandangan pribadi
dan orang lain untuk secara kritis menilai setiap siswa dapat membangun
pemahaman berdasarkan bukti empiris. Sebagai filsafat, konstruktivisme dapat
menyebabkan konstruksi sendiri ide, dalam hal struktur dan asosiasi yang
mungkin bisa digali. Teori tujuan ini yang memperkenalkan kesadaran meta kritis
dan memiliki orientasi konstruktivis untuk belajar yang unik karena terletak
siswa individu sebagai keseluruhan, bukan dirasakan sedikit sepintas dari esensinya.
Konstruktivisme adalah versi modern dari anatomi manusia, dalam arti bahwa hal
itu bergantung pada menawarkan ide-ide, kemauan untuk belajar, mekanisme dan
struktur mental.
0 komentar:
Posting Komentar