Senin, 14 Maret 2016

IDENTITAS



MATEMATIKA MODEL
IDENTITAS


disusun guna melengkapi tugas matakuliah Matematika Model

Dosen pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A.





Disusun oleh:
SRI SURYANINGTYAS             (15709251075)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

Identitas (Identity)

Teori identitas dikemukakan oleh Sheldon Stryker (1980). Teori ini memusatkan perhatiannya pada hubungan saling mempengaruhi di antara individu dengan struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat). Individu dan masyarakat dipandang sebagai dua sisi dari satu mata uang. Seseorang dibentuk oleh interaksi, namun struktur sosial membentuk interaksi. Dalam hal ini Stryker tampaknya setuju dengan perspektif struktural, khususnya teori peran. Namun dia juga memberi sedikit kritik terhadap teori peran yang menurutnya terlampau tidak peka terhadap kreativitas individu.
Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran (dari teori peran) dan konsep diri (dari teori interaksi simbolis). Bagi setiap peran yang kita tampilkan dalam berinteraksi dengan orang lain, kita mempunyai definisi tentang diri kita sendiri yang berbeda dengan diri orang lain, yang oleh Stryker dinamakan “identitas”. Jika kita memiliki banyak peran, maka kita memiliki banyak identitas. Perilaku kita dalam suatu bentuk interaksi, dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri kita, begitu juga perilaku pihak yang berinteraksi dengan kita.
Intinya, teori interaksi simbolis dan identitas mendudukan individu sebagai pihak yang aktif dalam menetapkan perilakunya dan membangun harapan-harapan sosial. Perspektif iteraksionis tidak menyangkal adanya pengaruh struktur sosial, namun jika hanya struktur sosial saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku sosial, maka hal tersebut kurang memadai.
Identitas itu sementara, karena ia akan berubah. Konsep-konsep identitas, seperti ras, suku, agama, profesi dan aliran pemikiran, adalah ciptaan dari pikiran manusia. Orang bisa menjadi bagian dari suatu ras, suku atau agama, tetapi ia juga bisa melepaskan diri dari semua label tersebut, jika ia mau. Bahkan, karena luasnya pergaulan seseorang, ia bisa begitu saja mengubah seluruh identitasnya. Identitas juga rapuh. Ia begitu mudah berubah. Ia amat sementara. Berbagai hal bisa mendorong orang mengubah identitasnya, atau bahkan melepasnya sama sekali.
Identitas adapula yang bersifat melekat dalam diri. Itu artinya identitas bersifat tetap. Tetap dalam identitas mencerminkan suatu kekhasan yang membedakan antara satu dengan lainnya. Parmenides (540 - 575 SM) terkenal sebagai bapak ‘Filsafat ada’ (philosophy of to be). Filsafatnya adalah, “yang realitas dalam alam ini hanya satu, tidak bergerak dan tidak berubah alias tetap”. Dasar pemikirannya adalah yang ada itu ada, yang mustahil adalah tidak ada. Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud "yang ada", namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurut Parmenides, "yang ada" itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan. Selain itu, "yang ada" itu juga tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal. Hal ini berarti bahwa di dalam realitas ini penuh dengan yang ‘ada’. Jadi tidak ada yang lain termasuk yang ‘tidak ada’, karena yang tidak ada itu di luar jangkauan akal dan tidak dapat dipahami. Karena yang ‘ada’ bersifat tetap, maka adanya hanya satu dan tak mungkin ada bermacam-macam. Sebagai konsekuensinya, yang ‘ada’ tidak berawal dan tidak mengalami keakhiran. Oleh karena yang ‘ada’ itu satu, maka tidak mungkin terbagi-bagi. Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa ‘yang ada itu ada dan yang tidak ada memang tidak ada’, Parmenides pun dikukuhkan sebagai peletak landasan dasar metafisika. Parmenides sama sekali menolak pengetahuan indera sebagai kebenaran, seperti yang diakui oleh Herakleitos. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan akal, karena bersifat umum, tetap, dan tidak berubah. Sedangkan pengetahuan indera adalah pengetahuan yang sama sekali keliru. Oleh karena itu, kebenaran adalah sesuatu yang bersifat tetap.
Dalam matematika identitas disebut juga unsur kesatuan atau modulus. Berikut ini beberapa elemen identitas yang ada dalam matematika:
1.    Elemen Identitas pada Penjumlahan
Dalam operasi penjumlahan, angka 0 disebut unsur netral atau elemen identitas dalam penjumlahan. Karena, setiap bilangan yang dijumlahkan dengan hasilnya adalah bilangan itu sendiri.
Contoh:
4 + 0 = 0 + 4 = 4
6 + 0 = 0 + 6 = 6
11 + 0 = 0 + 11 = 11
a + 0 = 0 + a = a
2.    Elemen Identitas pada Perkalian
Dalam operasi perkalian, angka 1 disebut unsur netral atau elemen identitas dalam perkalian. Karena, setiap bilangan yang dikalian dengan 1 hasilnya adalah bilangan itu sendiri.
Contoh:
4 x 1 = 1 x 4 = 4
6 x 1 = 1 x 6 = 6
11 x 1 = 1 x 11 = 11
a x 1 = 1 x a = a

Sumber:
http://dewianggraini7789.blogspot.com/2012/09/aliran-filsafat-dan-perkembangannya.html

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About