Filsafat Ilmu Pertemuan ke 9
Hubungan Compte dan Kehidupan
Rabu, 18 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di
ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan,
kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk mengikuti proses perkuliahan.
Kemudian ada tes jawab singkat selanjutnya penjelasan dari Bapak Marsigit. Filsafat
itu mencakup beberapa macam konteks yang berkaitan dengan hal - hal dalam hidup
kita. Bapak mencontohkan tentang etnomatika yaitu pembelajaran matematika berbasis
budaya. Pembelajaran ini untuk memperkaya fondasi dengan landasan budaya,
dimana tetap berorientasi kepada siswa. Beliau menyampaikan bahwa mitos semestinya
dipikirkan, namun pada kenyataannya tidak dipikirkan. Contoh mitos yang ada itu
banyak sekali karena kehidupan ini penuh dengan mitos. Contohnya terbentuknya
pelangi dari turunnya bidadari, orang beranggapan bidadari turun ke bumi untuk
mandi dan warna-warna pelangi itu menunjukkan selendang bidadari yang membentuk
seperti jembatan. Ternyata itu hanyalah mitos yang telah dicari kebenarannya bahwa
pelangi itu hasil pembiasan sinar matahari dari uap air/awan. Mitos dan logos
itu relatif, bukan absolut. Sebanyak apapun kita menyebutkan mitos tidak akan
bisa mendefinisikan mitos karena dunia itu ada batas – batasnya. Linear maupun
siklis. Shalat dan doa pun bisa berubah menjadi mitos, jika kita tidak
memikirkannya dan tidak tahu artinya. Hidup ini setengah mitos dan setengah logos.
Matematika mengatakan setengah ditambah setengah maka sama dengan satu, tetapi
filsafat berkata setengah ditambah setengah itu bisa bukan sama dengan satu. Sehingga
dapat ditambahkan pula bagian itu ada iman dan taqwa. Hal itu menunjukkan bahwa
kita sudah bisa melihat fenomena tersebut, maka dimensi kita sudah lebih
tinggi.
Berbicara tentang hermenetika dalam konteks agama dan
kitab suci. Semua tergantung ruang dan waktu konsepnya, semua tergantung rumusnya.
Jika filsafat disampaikan terlalu singkat maka sangat menyakitkan untuk orang
lain. Mengembangkan formula pada hermeneutika dimana kita tahu fenomena saintifik
itu fenomena menukik/menajam. Hidup itu fenomenya lengkap, pilarnya menukik, mengalir dan mengembang. Jika orang
barat itu linier, maka bijaksananya orang barat itu dapat mencari sampai ke Mars.
Itu artinya hidup seperti spiral, hari ini ketemu rabu, besok ketemu rabu
begitu seterusnya. Semua harus kita bersyukur, dalam hidup kita membangun
kepercayaan, keluarga, rasa cinta. Maka semua itu butuh ilmu untuk membangunnya.
Ada Theisme dan Pantheisme, dimana theisme itu percaya
pada Tuhan sedangkan pantheisme itu satu Tuhan-Nya. Seperti salah satu negara
yang mempunyai banyak Tuhan sampai-sampai dengan hal-hal yang disukai, fanatik,
hingga maniak dijadikan Tuhan. Bila kita cermati, semua itu kita pikirkan tidak
ada habisnya. Hal ini berarti Tuhan itu dimarginalkan. Humanisme dalam pandangan
filsafat dengan psikologi berbeda, dalam psikologi humanisme itu manusiawi
sedangkan dalam filsafat itu berpusat kepada manusia. Pemikiran itu memiliki
dimensi, batas, dan makna. Itulah pentingnya membaca agar mengetahui dimensi
dan strukturnya, sesuai dengan ruang dan waktunya. Dari beberapa fenomena di
atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat itu memiliki kehidupan, makna, arti.
Filsafat yang belum dibuktikan itu adalah mitos, dan yang sudah terbukti yaitu
logos.
Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa hidup itu
banyak sekali mitos yang mengelilinginya maka tentu banyak pula
fenomena-fenomena yang terjadi. Salah satu fenomena itu adalah fenomena Compte.
Entah orang-orang tahu atau tidak apa itu fenomena Compte namun yang pasti
tejadi saat ini mereka terjangkit fenomena. Bagaimana tidak? Dalam pemikiran
positif Compte, Comte memarginalkan Tuhan. Fenomena Comte menempatkan metode
saintifik atau positif diatas spiritual tersebut, dampak fenomena Comte sudah
dirasakan dalam kehidupan saat ini. Begitu berkuasanya positif sehingga negara
kita pun yang pada hakikatnya adalah bangsa yang menjunjung tinggi aspek
spiritual di atas segalanya saat ini sedang dalam masa pergeseran akibat
bayang-bayang fenomena Comte ini. Perkembangan teknologi sebagai bentuk powernow
yang merupakan produk kemenangan Comte telah banyak terjadi dalam kehidupan
kita sehari-hari.
Memang penting pula kita mempunyai alat komunikasi
seperti hp namun saat ini kita seperti kesurupan dan diperbudak oleh barang
kecil itu. Bagaimana tidak? Kita rela merogoh uang dengan jumlah yang amat
besar untuk membeinya dan semakin canggihnya hp maka harganya semakin mahal. Dan
hampir setiap tahun perusahaan pembuat hp berlomba-lomba mencetak hp tercanggih
dan naasnya tidak sedikit dari kita yang tergiur untuk membelinya. Akibatnya banyak
hal yang amat sangat penting daripada membeli hp menjadi terbengkalai dan
justru membuat komunikasi langsung antarsesama manusia menjadi kurang. Mereka hingga
lupa bagaimana berkomunikasi yang baik dengan sesamanya.
Tidak berhenti sampai disitu. Kita lihat generasi muda
saat ini,mereka seperti tidak mau lepas dengan hp. Kemana-mana hp, jika hp
hilang mereka seperti kehilangan nyawanya. Karena hp pula mereka tidak
memerhatikan keadaan sekitarnya terlebih orang tua. Mereka rela meminta uang
banyak hanya untuk mendapatkan hp terbaru tanpa memerhatikan susahnya orang tua
mencari uang. Mereka sudah tidak lagi merasakan sebenar-benarnya dunia
anak-anak. Bagaimana tidak? Dulu begitu banyak mainan tradisional anak-anak dan
lagu anak-anak yang sifatnya mendidik dan mengandung petuah bijak namun saat
ini mereka sudah hilang ditelan bumi. Mereka terpajang cantik di museum,
dinding rumah, di pigura atau bahkan diletakkan di gudang. Anak-anak sudah
tidak lagi mengenalnya dan kalau pun dikenalkan hanya sedikit sekali dari
mereka yang antusias. Pengawasan orang tua sangatlah penting agar anak-anak itu
tidak semakin terjerumus, memberikan contoh dan bekal pendidikan yang baik pada
anak adalah salah satu upaya untuk meminimalisir dampak perkembangan teknologi.
Untuk itu, senantiasa tetapkan hati dan pikiran kita menjalani hidup agar
selalu ada pada jalan-Nya dan mengisinya dengan aspek spiritual dan kegiatan
positif sehingga menjadi insan yang beriman dan menjunjung tinggi nilai agama
dan budaya bangsa sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar