Minggu, 08 November 2015

REFLEKSI FILSAFAT PERTEMUAN KETUJUH



Refleksi Filsafat Ilmu Pertemuan ke 7

Rabu, 4 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Hari ini perkuliahan tidak seperti biasanya karena ketika Bapak Marsigit memasuki ruangan kami diminta untuk duduk dengan meja. Namun tetap seperti biasa kami tidak menulis tetapi merekam suara bapak Prof Marsigit dalam proses pembelajaran. Beliau menyampaikan didalam filsafat pokok persoalan meliputi ada dan mungkin ada. Keterbatasan manusia tidak bisa menyebut semuanya. Jika manusia bisa menyebut semuanya, maka manusia tidak akan bisa hidup. Manusia reduksionisme yang artinya membangun dunia pikiran diri sendiri. Misalnya, ingin membangun rumah, maka kita membeli material seperti batu, semen, pasir, dll. Dalam filosofinya, kita bisa memilih karakter, yang mana tesisnya tetap dan anti tesisnya berubah. Tokoh filsafat yang menganggap dunia itu tetap adalah Fermenides, sedangkan yang menganggap dunia itu berubah adalah Heracritos. Tetap itu untuk manusia adalah makhluk Tuhan hingga nanti. Manusia tidak bisa parsial, maka manusia menuju sempurna. Dunia yang tetap terdapat di dalam pikiran, dan yang berubah terdapat di luar pikiran. Di dalam pikiran dalam filsafat disebut idealisme sedangkan di luar pikiran dalam filsafat disebut realisme. Yang ada disebut dengan mono, dalam filsafat disebut monoisme. Yang mungkin ada disebut dengan jamak, dalam filsafat disebut pluralisme. Yang ada tempat berdomisilinya para dewa (misal orang tua) sedangkan yang mungkin ada berdomisili para daksa (yaitu anak-anak). Pemikiran untuk para dewa adalah abstrak sedangkan untuk daksa yaitu konkrit. Yang ada merupakan analitik dan a priori, sedangkan yang mungkin ada merupakan sintetikdan a posteriori. Beliau juga mengatakan bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah sintetik apriori yang merupakan pemikiran dan pengalaman itu ada. Karena seseorang memiliki pengalaman, maka muncullah empirisme dengan tokohnya, David Hum. Jika itu hanya pikiran maka disebut dengan rasionalisme, dengan tokohnya Rene Descartes. Struktur dunia terdiri dari ada dan yang mungkin ada.
Jaman filsafat modern berada sekitar tahun 1671. Tahun 3000 SM hingga 1671 terjadi perkembangan pemikiran, sehingga muncul pula jaman kegelapan pada abad ke 13-16. Pada jaman tersebut muncul pemikiran dominasi kebenaran oleh gereja, dimana siapapun tidak boleh mencari kebenaran, kebenaran absolut dikendalikan oleh gereja. Karena jika ada yang mencari kebenaran itu sudah dianggap melanggar aturan sehingga hukuman pun berlaku. Korban dalam masa itu contohnya Galileo Galilei, yang mana beliau melakukan percobaan dalam mengukur kecepatan suara, beliau melakukan percobaan di gunung, kemudian dengan menggunakan api juga, sehingga dianggap melakukan praktik perdukunan. Ada banyak sekali korban pada saat itu, namun tidak bisa disebutkan satu per satu. Kemudian, mereka membangkitkan kembali filsafat lama dengan tokohnya Aristoteles dan Plato. Setelah Turki kalah, ditemukan dokumen tersebut oleh orang barat sehingga ada modal untuk perkembangan filsafat modern. Kemudian berkembanglah rasionalisme dan pengalaman, biasanya disebut intuisi, aksioma-aksioma, dan postulat. Postulat itu milik para dewa. Jadi, dalam berfilsafat juga terdapat benar maupun salah. Contohnya, "aturan para siswa" dinilai salah, yang benar adalah "aturan sekolah dilaksanakan para siswa" karena tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Descartes beserta pengikutnya mengemukakan bahwa ilmu itu harus berdasarkan pikiran. Sebenar-benarnya ilmu itu di atas pengalaman. Pendapat itulah yang menyebabkan perdebatan diantara para ahli saat itu. Kemudian lahir filsafat yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yang disebut kanialisme, Kant mendamaikan perdebatan antara kedua belah pihak, beliau menganggap Rene Descartes itu terlalu mendewakan pikiran tetapi melupakan pengalaman dan menganggap David Hum yang terlalu mendewakan pengalaman tetapi melupakan pikiran. Sehingga Kant menggabungkan dua unsur  yang berlaku bagi kedua belah pihak yaitu sebenar-benar ilmu adalah unsur pikiran (apriori) dan unsur pengalaman (sintetik) sehingga disebut dengan sintetik apriori.
Dalam filsafat juga mengenal transenden yang disebut transendentalisme. Menurutnya pemikiran itu ada yang di atas, dan adapula ada yang di bawah. Dari bawah berdasarkan persepsi, kesadaran, dan imajinasi sedangkan yang paling bawah adalah sensasi. Itulah proses lahirnya pengetahuan. Adapun bentuk formal (formalisme), logika (logicism), koheren (koherenisme), korespondensi. Sehingga sampailah pada elegi yang disebut "bendungan comte”. Auguste Compte adalah orang berkebangsaan Perancis, mahasiswa politeknik namun dia telah di drop out karena pada dasarnya dia tidak suka menghitung, dia lebih suka menulis. Sehingga dari menulis lahirlah buku dengan aliran filsafat Positivisme. Beliau menjelaskan bahwa tidak menggunakan agama karena irrasional. Diatas agama, terdapat filsafat, diatasnya lagi terdapat Positivisme (saintifik). Jadi, kurikulum 2013 saat ini didefinisikan kemenangan Auguste Compte.
Kurikulum 2013 itu berbasis spiritualisme, Auguste Compte menganggap itu irrasional. Struktur filsafat itu adalah material, formal, normatif, dan spiritual. Spiritual merupakan hal tertinggi dan paling penting dalam berfilsafat. Sehingga dalam struktur filsafat digambarkan dari yang rendah, yaitu archae (masyarakat batu), tribal (sebenar-benarnya tribal adalah dewanya batu), kemudian tradisional, feudal, modern, post modern, dan yang paling atas yaitu power now. Sehingga dapat kita bayangkan kondisi negara Indonesia saat ini dalam konteks luas, negara, ideologi, jati diri yang kecil. Setiap hari dibanjiri pengaruh dari luar yang seringkali sulit sekali ditolak. Sehingga berdampak kita tidak memiliki jati diri. Tetapi jika mempunyai jati diri maka presiden harus memiliki spiritual dan berkarakter. Adapula presiden yang sudah terlena dengan kekuasaan sampai-sampai ingin menjadi presiden seumur hidup. Beliau menggambarkan adanya gunung-gunung dan pantai, kita diibaratkan ikan yang sedang berenang di lautan. Yang diatas lahir ilmu-ilmu dasar naturalisme dll sedangkan dibawah adalah ilmu -ilmu humaniora. Secara tidak sadar Indonesia telah digerogoti oleh ilmu humaniora. Mereka mengambil kesempatan untuk pribadi dan golongan contohnya pejabat. Maka pejabat sekarang juga sesuai keinginan sendiri serta menterinya pun juga seperti itu.
Adapun para pejuang dunia yang ditopang oleh kapitalisme, pragmatisme, utilitarianisme, hedonisme, liberalisme. Sesuai paham itu, para pemimpin dipilih dari universitas, bukan dari latar belakang pendidikan. Dengan belajar filsafat, diibaratkan semua limbah mengalir ke laut, tidak mau diproduksi oleh powernow. Ibaratkan air laut sudah banyak tercemar, maka orang-orang seperti kita tidak berani untuk mengungkapkan pendapat secara langsung, nantinya akan berdampak pada stabilitas. Filsafat itu membangun diri sendiri, berbeda dengan politik yang harus mengumpulkan banyak orang. Saat ini yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan terhadap ruang dan waktunya. Saat ini dalam dunia pendidikan sedang diterapkan "bela negara". Menurut Bapak Marsigit, bela negara itu berdimensi dan berstruktur. Bela negara harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalkan, menggambarkan suatu peristiwa dengan berfilsafat dengan bahasa yang lain. Salah satu cara menngungkapkannya yaitu dengan elegi. Elegi itu menggambarkan anti tesis agar berpikir dan tidak terjerumus ke dalam hidup yang parsial. Dalam bela negara, bisa melalui tulisan contohnya berelegi. Filsafat memiliki banyak perangkat sehingga kita bisa menerapkan bela negara dengan berbagai cara. Terdapat salah seorang mahasiswa yang menanyakan perihal  kurikulum 2013, "Kita harus selalu berinovasi dalam proses pendidikan. Sedangkan materinya banyak sekali. Bagaimana caranya agar dalam kurun waktu yang sediakan cukup untuk menyampaikan materi?". Bapak Marsigit menjawab, "Coba contoh pembelajaran saya, saya menciptakan inovasi dengan blog elegi. Dengan begitu, materi tersampaikan semua. Ini merupakan contoh pembelajaran juga untuk mahasiswa". Meninjau kembali bahwa pernyataan "kurikulum 2013 adalah kemenangan Auguste Compte. Mengapa spiritual itu masih ada di dalam kurikulum 2013?". Bapak menjawab, "Dengan ontologi saintifik, mereka, para pejabat tidak ingin mengungkapkan pernyataan yang tinggi padahal pada kenyataan sejarahnya seperti itu, Positivisme adalah kemenangan Auguste Compte, mereka tidak mengakuinya, mereka hanya mengungkapkan bahwa tatap masa depan saja, sehingga negara tidak mengetahui sejarah negaranya jadi berkarakter lemah, maka metode saintifik itu mengamati dan menanya itu tidak punya makna. Dalam kenyataannya, pada scientific methods yang mana isinya mencantumkan hipotesis. Di Indonesia, struktur "menanya" dalam scientific methods diibaratkan untuk membuat hipotesis. Sebenar-benarnya hipotesis itu diterima atau ditolak dengan percobaan. Ternyata pimpinan canggung, pakarnya juga canggung. Kurikulum 2013 itu dianggap masih mitos, untuk itu filsafat digunakan untuk memerdekakan diri dari kesemena-menaan dari kepala sekolah, pemerintah dll”.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus membangun dunia kita sendiri, membangun pikiran kita sendiri dengan didasari oleh spiritual dan tetap sopan terhadap ruang dan waktu. Sadar akan apa yang terjadi pada dunia, negaramu dan terlebih lagi pada keadaan sekitar. Berpikir setinggi-tingginya, agar tidak terjebak ke dalam mitos dan parsial. Dalam dunia   pendidikan kita gunakan ilmu dan pengetahuan sebaik-baiknya untuk mewujudkan dunia yang solid dan kuat yang mampu berpegang teguh pada ciri khas kepribadian bangsa dan negaranya (memiliki jati diri yang sesungguhnya).

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About