Minggu, 20 September 2015

REFLEKSI KULIAH FILSAFAT 16 SEPTEMBER 2015

REFLEKSI KULIAH FILSAFAT PERTEMUAN KEDUA



Rabu, 16 September 2015 jam 07.30-09.10 di ruang PPG 1 Laboratorium Matematika FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta berlangsung perkuliahan Filsafat Ilmu, dengan dosen pengampu Bapak. Prof. Dr. Marsigit, M.A. Seperti pada pertemuan sebelumnya, mahasiswa diminta untuk merekam apa yang disampaikan.
            Setiap perkuliahan, beliau selalu menyampaikan materi dengan cara mengkaitkan materi tersebut dengan kehidupan nyata. Pada perkuliahan ini, beliau menceritakan pengalamannya mengendarai kendaraan di jalan raya. Beliau menyampaikan bahwa di jalan raya berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Kita harus bisa menyesuaikan ritme di jalan, karena dimanapun kita berada harus berhati-hati begitu juga di jalan. Hal tersebut ibarat isi dan wadah, dimana isi menyesuaikan wadah, wadah terpengaruh oleh isi. Di jalan raya, kendaraan adalah wadah sedangkan pengendara adalah isi. Hidup merupakan interaksi antara wadah dan isi.
            Dalam hidup kita berusaha untuk mengerti walaupun sadar tidak akan pernah sempurna memahaminya karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Oleh karena ada ketidaksempurnaan dalam kesempurnaan, manusia menemukan hakekat kehidupan. Kita harus bersyukur dengan ketidaksempurnaan yang dimiliki. Beliau menyampaikan bahwa janganlah kita bercita-cita yang tidak sesuai dengan kodratnya. 
              Di dunia berlaku hukum sebab akibat, setiap apa yang dilakukan pasti ada penyebabnya dan pasti juga ada akibat sebagai konsekuensi dari perbuatan itu. Beliau juga menyampaikan bahwa sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara idealis dan realis. Menurut Plato idealis itu sesuatu yang ada di dalam pikiran dan menurut Aristoteles realis itu sesuatu yang tidak ada, tidak bisa dilihat, tidak bisa disentuh. Objek filsafat terdiri dari ada dan yang mungkin ada, disampaikan dengan bahasa analog karena bahasanya lebih tinggi dari kiasan dan bisa menembus ruang dan waktu. Yang mungkin ada bisa menjadi ada dengan cara dikenali beberapa sifat dari sekian milyar sifatnya yang ada. Dalam istilah Jawa, hidup itu manunggaling kawula Gusti artinya bersatunya Sang Pencipta dengan yang diciptakan, bersatunya objek dengan predikat, seperti wadah dan isi meskipun tidak akan pernah wadah sama dengan isi. Begitu banyak kejadian atau pengalaman hidup yang bisa dijadikan pelajaran, beliau menyampaikan bahwa metode pembelajaran yang baik adalah metode hidup.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About