PANDANGAN FILSAFAT TERHADAP
METODE PEMBELAJARAN
disusun guna
melengkapi tugas ujian akhir semester matakuliah Filsafat Ilmu
Dosen pengampu : Prof.
Dr. Marsigit, M.A.
Disusun
oleh:
SRI SURYANINGTYAS (15709251075)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pelaksanaan pembelajaran
yang saat ini diharapkan adalah pembelajaran yang berpusat pada saat siswa (student centered learning). Pembelajaran
ini merupakan suatu pembelajaran yang lebih memberikan kesempatan pada siswa
untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan bimbingan guru. Pembelajaran ini
menempatkan guru sebagai fasilitator dan bukan sumber utama pembelajaran. Siswa
dapat memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu sangat
penting pada setiap pembelajaran dapat mengkaitkannya dengan kehidupan siswa.
Matematika merupakan salah
satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Matematika juga ilmu yang bertujuan untuk mendidik
manusia agar dapat berpikir logis, kritis, rasional dan percaya diri.
Pemahaman, penguasaan materi, keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan
prestasi belajar siswa merupakan indikator keberhasilan proses kegiatan pembelajaran
matematika.
Mengubah pembelajaran lama
ke pembelajaran yang baru (teacher centered
menuju learning student centered learning) bukanlah hal
yang mudah bagi guru. Diperlukan pengetahuan dan kreativitas untuk menghadirkan
pembelajaran yang bervariasi sehingga menarik minat belajar siswa. Oleh sebb
itu, dalam dunia pendidikan diperlukan filsafat pendidikan yang menitikberatkan
pada pelaksanaan prinsip-prinsip yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam
upaya memecahkan masalah pendidikan. Penerapan filsafat pendidikan dalam
pembelajaran matematika diharapkan dapat membantu guru dalam mewujudkan
pembelajaran matematika yang menempatkan siswa untuk dapat mengembangkan
sendiri pengetahuannya, menerapkan metodologi yang sesuai, dan segala hal yang
berkaitan dengan pembelajaran matematika.
Kehidupan sehari-hari
sangat erat kaitannya dengan ilmu yang dipelajari. Menghubungkan teori-teori
yang dipelajari dengan masalah kehidupan dibutuhkan kemampuan mengkomunikasikan
pada siswa agar mudah dipahami. Dalam filsafat ilmu telah dipelajari bahwa setiap
metode pembelajaran yang ada memiliki kelebihan dan kekurangan, kekurangan tersebut
dapat teratasi dengan melihat faktor-faktor yang tidak mendukung dalam proses
pembelajaran. Dalam filsafat juga menyarankan agar pembelajaran itu menerapkan
metode hidup agar lebih mudah dipahami siswa.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang
dikemukakan sebagai berikut:
1.
Bagaimana filsafat memaknai kemampuan siswa?
Bagaimana pandangan
filsafat terhadap metode pembelajaran?
C.
Tujuan
Tujuan penulisan makalah
ini sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui filsafat memaknai kemampuan siswa
2.
Untuk mengetahui pandangan filsafat terhadap metode pembelajaran
BAB
II
PEMBAHASAN
Filsafat matematika mencakup ontologi, epistemologi,
dan aksiologi. Ontologi menyangkut hakekat matematika, apakah hakekat yang ada
di balik matematika. Epistemologi menyangkut bagaimana cara menjawab pertanyaan
mengenai matematika, cara memperoleh dan menangkap permasalahan matematika.
Aksiologi menyangkut filosofis hakekat nilai dari matematika. Filsafat
matematika mengacu pada masalah belajar dan mengajar.
Matematika sebagai ilmu adalah matematika yang utuh
dalam sistem maupun strukturnya yang deduktif aksiomatik. Kebenaran dalam
matematika didapatkan dengan penalaran deduktif kemudian disusun rangkaian
kebenaran konsisten menuju kesimpulan akhir. Pada awalnya matematika digunakan
untuk menyelesaikan masalah sehari-hari melalui objek nyata yang ada di sekitar
kita. Pada perkembangan selanjutnya matematika berkembang melalui objek abstrak
dan idealis. Hal tersebut menunjukkan bahwa matematika mempunyai hal-hal yang
ada dan yang mungkin ada.
Sama halnya ketika kita mempelajari filsafat,
filsafat itu mencakup yang ada dan yang mungkin ada, berkaitan dengan wadah,
isi, ruang dan waktu. Begitu pula dengan mempelajari matematika harus dapat
menyesuaikan wadah dan isinya serta sopan terhadap ruang dan waktunya. Ketika
belajar matematika banyak yang berpendapat bahwa matematika adalah bagian dari
ilmu pasti maka kebenarannya juga bersifat pasti. Padahal tidaklah selalu
demikian, kebenaran dalam matematika pasti itu menyesuaikan ruang dan waktunya.
Jadi, disesuaikan dengan konteks pembeicaraannya. Matematika merupakan salah
satu ilmu yang erat kaitannya dengan kehidupan kita. Sebesar apapun seseorang
tidak menyukai matematika pasti akan bertemu dengan matematika yang
berbeda-beda tingkat kesulitannya. Contoh adanya materi matematika yaitu
aritmatika sosial.
Seringkali muncul dan mendengar bahwa matematika itu
sulit. Sulit dalam matematika sebenarnya tidaklah sulit bagi yang memahami.
Sama halnya ketika filsafat memandang kehidupan dimana sebenar-benarnya
kehidupan adalah keikhlasan hati dan pikiran dalam menjalaninya, rasa syukur
yang selalu ada dalam hati dan pikiran membuat seseorang dengan ikhlas
menghadapi kerasnya kehidupan. Sebenar-benarnya hidup adalah jalan yang
berliku. Matematika pun juga demikian, ada saat tertentu seseorang yang tidak
menyukai matematika tiba-tiba menjadi suka. Hal ini dikarenakan faktor dari
dalam dan luar, bisa karena materinya mudah, guru yang mengajar menyenangkan,
ada motivasi untuk bisa dan sebagainya. Alasan tersebut merupakan salah saru
contoh bahwa dalam diri setiap manusia memiliki keinginan untuk merubah hidup
yang lebih baik.
Berbicara tentang kehidupan, dalam filsafat
kehidupan itu hendakya dijalani bukan dihindari. Menghindari segala hal tanpa
mau berusaha menghadapinya itu artinya kita termasuk pada golongan hindarisme.
Dalam kehidupan kita mengenal sebab akibat, apa yang kita lakukan pasti ada
sebabnya dan akibat dari perbuatan itu. Mempelajari matematika akan terasa
mudah jika kita ikhlas hati dan ikhlas pikir. Ikhlas disini diartikan sebagai
usaha atau ikhtiar kita untuk mendapatkan ilmu. Hal tersebut berkaitan pula
dengan seorang pendidik yang mencoba menghilangkan asumsi yang ada pada
siswanya bahwa matematika itu sulit. Sebagai contoh, ketika memilih benda yang
kita sukai pastilah ada alasan mengapa menyukai benda itu. Ada hal istimewa
dari benda itu sehingga kita menyukainya. Hal tersebutlah yang bisa digunakan
oleh guru agar siswa menyukai matematika, apa yang harus dirubah dan
ditingkatkan dalam pembelajaran matematika.
Pembelajaran saat ini sudah bukan lagi guru
menerangkan panjang lebar di depan kelas, saat ini pembelajaran lebih
didominasi oleh siswa. Siswa diberi kesempatan membangun sendiri pengetahuannya
berdasarkan intuisi mereka. Setiap siswa memiliki intuisi dan guru haruslah
memahami itu. Siswa akan mudah memahami jika dikaitkan dengan kejadian-kejadian
yang pernah dialaminya. Maka dari itu tugas guru adalah menghadirkan
pembelajaran yang bisa dikaitkan dengan kehidupan siswa karena sebenarnya
matematika itu sangat dekat dengan kehidupan siswa. Pada dasarnya untuk membuat
siswa menyukai matematika ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru
diantaranya keinginan siswa untuk mempelajarinya, adanya rasa kemandirian untuk
belajar bagi siswa yang menyukai matematika, perlunya belajar bersama dan
adanya situasi belajar yang bervariasi. Pembelajaran yang guru laksanakan
haruslah disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Menghadirkan pembelajaran sesuai
dengan kebutuhan atau keinginan siswa memang tidaklah mudah. Menghadap siswa dengan
kemampuan yang heterogen memerlukan kreativitas yang cukup menantang. Bagaimana
tidak? Tidak jarang ditemuai bahwa siswa yang pandai mau bekerjasama dengan
siswa berkemampuan rendah. Siswa yang pandai cenderung mengerjakan sendiri dan
sedikit berkomunikasi atau menjelaskan pekerjaannya pada siswa lain sedangkan siswa
berkemampuan rendah hanya bergurau atau melihat saja. Namun ada juga yang tidak
demikian.
Keadaan yang tergambar diatas menunjukkan bahwa
variasi dalam pembelajaran itu sangat penting. Variasi dalam pembelajaran erat
kaitannya dengan metode pembelajaran. Dalam filsafat pendidikan, tidak ada metode
pembelajaran yang baik dan benar-benar efektif karena setiap metode
pmebelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna. Namun
alangkah baiknya jika dalam pembelajaran menerapkan metode hidup. Metode hidup
artinya pembelajaran yang diterapkan seperti metode kita menjalani kehidupan. Dalam
kehidupan, ada istilah menterjemahkan dan diterjemahkan. Dua hal inilah dapat
kita gunakan dalam pembelajaran. Seperti postingan Bapak Marsigit tentang
mengadakan pembelajaran dengan menyesuaikan kebutuhan siswa. Dalam postingan
tersebut digambarkan bahwa seorang guru membagi siswanya dalam beberapa
kelompok sesuai dengan tingkat kemampuan siswanya. Siswa yang berkemampuan
tinggi diberikan LKS dan diberikan kesempatan menggunakan pengetahuannya untuk
berdiskusi mengerjakan LKS, sesekali diberikan bimbingan hanya ketika siswa
kesulitan. Sedangkan siswa yang berkemampuan rendah diberikan LKS dengan
tingkat kesulitan sesuai kemampuannya dan diberikan bimbingan serta penjelasan
namun tidak serta merta langsung diberikan. Guru memancing siswa tersebut dengan
pertanyaan-pertanyaan agar mengetahui sejauh mana perkembangan belajar siswa.
Sama halnya dalam kehidupan, Tuhan mengabulkan apa
yang kita inginkan namun tidak langsung. Sebelumnya kita diuji dengan beberapa
hal untuk mengetahui apakah kita pantas mendapatkannya. Sebenar-benarnya
kenyamanan dalam hidup adalah ketika kita ikhlas hati dan pikiran. Dalam hidup
kita juga telah diajarkan untuk bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk,
yang baik tidak selamanya baik begitu pula dengan yang buruk tidak selamanya
buruk. Hal tersebut berkaitan dengan niat untuk memperbaiki diri. Begitu pula
dengan pembelajaran, dalam satu kelas guru menghadapi siswa pandai, sedang dan
rendah. Tidak selamanya siswa yang rendah terus rendah begitu juga dengan yang
pandai dan sedang.
Salah satu contoh kejadian yang pernah saya alami
yaitu ketika praktek mengajar di salah satu SMP negeri yang tempatnya agak jauh
dari kota. Banyak orang yang mengatakan bahwa SMP yang agak jauh dari kota rata-rata
prestasi belajarnya masih kurang namun rata-rata mereka memiliki keunggulan
dibidang non akademik. Ternyata hal tersebut benar adanya ketika saya di tempat
praktek mengajar dengan keadaan sekolah dan siswanya seperti itu. Dari pihak
sekolah, kami guru-guru praktikan diminta untuk membantu mengarahkan siswa agar
temotivasi belajarnya utamanya dalam bidang akademik. Memang tidak tapi
setidaknya kami berusaha mendekati siswa untuk mengetahui apa penyebab mereka
kurang berminat dalam pembelajaran. Dan ternyata rata-rata siswa mengatakan
bahwa pembelajarannya kurang menyenangkan, tidak bervariatif, terlalu tegang,
penjelasan guru kurang jelas, guru hanya memperhatikan siswa yang berkemampuan
tinggi saja. Dari situ kami mencoba perlahan-lahan untuk mempraktekkan metode
pembelajaran yang telah dipelajari dan tidak lupa divariasikan dengan metode
pembelajaran yang lain. Dan hasilnya terjadi perubahan secara perlahan-lahan
dari diri siswa itu sendiri. Mereka senang dengan adanya diskusi kelompok,
belajar dengan game pembelajaran, belajar dengan bercerita.
Hal yang saya lakukan tersebut ternyata ada
kaitannya dengan filsafat pendidikan setelah saya mendapatkan perkuliahan
filsafat ilmu. Dalam filsafat ilmu, pembelajaran yang demikian adalah metode
hidup. Siswa jadi tahu apa gunanya mereka mempelajari materi-materi itu dalam
kehidupan sehari-hari mereka. Banyak hal yang telah mereka pelajari di sekolah
ternyata satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan bisa diterapkan dalam
kehidupan sesuai dengan ruang dan waktunya. Dari sinilah saya bisa memahami
bahwa pentingya mempelajari filsafat ilmu pendidikan itu dan ternyata apa yang
menjadi kendala dalam pembelajaran sebenarnya telah dibahas dalam filsafat ilmu
pendidkan. Penting bagi seorang guru untuk memahami kebutuhan siswanya agar
pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, perlunya evaluasi di setiap
pembelajaran untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran. Memang bahasa yang
digunakan dalam filsafat tidak mudah untuk dimengerti namun jika kita bisa
merenungkan dan mengkaitkannya dengan kejadian yang pernah kita alami, akan
semakin jelas.
BAB
III
KESIMPULAN
Berdasarkan pembehasan diatas dapat disimpulkan
bahwa pentingnya mempelajari filsafat ilmu pendidikan. Dalam filsafat ilmu
telah dibahas ontologi, epistemologi dan aksiologi pendidikan termasuk
didalamnya tentang pembelajaran. Pembelajaran dari siswa dan untuk siswa,
memberikan kesempatan pad siswa untuk membangun pengetahuannya karena pada
dasarnya siswa telah memiliki intuisi. Intuisi siswa yang beragam merupakan
salah satu tugas guru untuk mengarahkan intuisi tersebut agar terbentuk suatu
pengetahuan yang bermanfaat. Kebermanfataan ilmu akan terasa jika diterapkan
dalam kehidupan.
Matematika merupakan pelajaran yang sangat dekat
dengan kehidupan siswa. Dalam pembelajaran matematika diperlukan metode hidup
untuk mengajarkannya agar bisa lebih mudah dipahami siswa. Kaitkan matematika
itu dengan kejadian yang ada dan pernah dialami siswa. Kemampuan siswa yang
heterogen memerlukan suatu kreatifitas untuk menghadirkan pembelajaran yang
seuai dengan kebutuhan siswa.