Senin, 18 Januari 2016

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER FILSAFAT ILMU




PANDANGAN FILSAFAT TERHADAP
METODE PEMBELAJARAN


disusun guna melengkapi tugas ujian akhir semester matakuliah Filsafat Ilmu

Dosen pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A.





Disusun oleh:
SRI SURYANINGTYAS             (15709251075)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pelaksanaan pembelajaran yang saat ini diharapkan adalah pembelajaran yang berpusat pada saat siswa (student centered learning). Pembelajaran ini merupakan suatu pembelajaran yang lebih memberikan kesempatan pada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan bimbingan guru. Pembelajaran ini menempatkan guru sebagai fasilitator dan bukan sumber utama pembelajaran. Siswa dapat memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu sangat penting pada setiap pembelajaran dapat mengkaitkannya dengan kehidupan siswa.
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Matematika juga ilmu yang bertujuan untuk mendidik manusia agar dapat berpikir logis, kritis, rasional dan percaya diri. Pemahaman, penguasaan materi, keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan prestasi belajar siswa merupakan indikator keberhasilan proses kegiatan pembelajaran matematika.
Mengubah pembelajaran lama ke pembelajaran yang baru (teacher centered menuju learning student centered learning) bukanlah hal yang mudah bagi guru. Diperlukan pengetahuan dan kreativitas untuk menghadirkan pembelajaran yang bervariasi sehingga menarik minat belajar siswa. Oleh sebb itu, dalam dunia pendidikan diperlukan filsafat pendidikan yang menitikberatkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan masalah pendidikan. Penerapan filsafat pendidikan dalam pembelajaran matematika diharapkan dapat membantu guru dalam mewujudkan pembelajaran matematika yang menempatkan siswa untuk dapat mengembangkan sendiri pengetahuannya, menerapkan metodologi yang sesuai, dan segala hal yang berkaitan dengan pembelajaran matematika.
Kehidupan sehari-hari sangat erat kaitannya dengan ilmu yang dipelajari. Menghubungkan teori-teori yang dipelajari dengan masalah kehidupan dibutuhkan kemampuan mengkomunikasikan pada siswa agar mudah dipahami. Dalam filsafat ilmu telah dipelajari bahwa setiap metode pembelajaran yang ada memiliki kelebihan dan kekurangan, kekurangan tersebut dapat teratasi dengan melihat faktor-faktor yang tidak mendukung dalam proses pembelajaran. Dalam filsafat juga menyarankan agar pembelajaran itu menerapkan metode hidup agar lebih mudah dipahami siswa.

B.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dikemukakan sebagai berikut:
1.      Bagaimana filsafat memaknai kemampuan siswa?
Bagaimana pandangan filsafat terhadap metode pembelajaran?

C.      Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui filsafat memaknai kemampuan siswa
2.      Untuk mengetahui pandangan filsafat terhadap metode pembelajaran


 
BAB II
PEMBAHASAN

Filsafat matematika mencakup ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi menyangkut hakekat matematika, apakah hakekat yang ada di balik matematika. Epistemologi menyangkut bagaimana cara menjawab pertanyaan mengenai matematika, cara memperoleh dan menangkap permasalahan matematika. Aksiologi menyangkut filosofis hakekat nilai dari matematika. Filsafat matematika mengacu pada masalah belajar dan mengajar.
Matematika sebagai ilmu adalah matematika yang utuh dalam sistem maupun strukturnya yang deduktif aksiomatik. Kebenaran dalam matematika didapatkan dengan penalaran deduktif kemudian disusun rangkaian kebenaran konsisten menuju kesimpulan akhir. Pada awalnya matematika digunakan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari melalui objek nyata yang ada di sekitar kita. Pada perkembangan selanjutnya matematika berkembang melalui objek abstrak dan idealis. Hal tersebut menunjukkan bahwa matematika mempunyai hal-hal yang ada dan yang mungkin ada.
Sama halnya ketika kita mempelajari filsafat, filsafat itu mencakup yang ada dan yang mungkin ada, berkaitan dengan wadah, isi, ruang dan waktu. Begitu pula dengan mempelajari matematika harus dapat menyesuaikan wadah dan isinya serta sopan terhadap ruang dan waktunya. Ketika belajar matematika banyak yang berpendapat bahwa matematika adalah bagian dari ilmu pasti maka kebenarannya juga bersifat pasti. Padahal tidaklah selalu demikian, kebenaran dalam matematika pasti itu menyesuaikan ruang dan waktunya. Jadi, disesuaikan dengan konteks pembeicaraannya. Matematika merupakan salah satu ilmu yang erat kaitannya dengan kehidupan kita. Sebesar apapun seseorang tidak menyukai matematika pasti akan bertemu dengan matematika yang berbeda-beda tingkat kesulitannya. Contoh adanya materi matematika yaitu aritmatika sosial.
Seringkali muncul dan mendengar bahwa matematika itu sulit. Sulit dalam matematika sebenarnya tidaklah sulit bagi yang memahami. Sama halnya ketika filsafat memandang kehidupan dimana sebenar-benarnya kehidupan adalah keikhlasan hati dan pikiran dalam menjalaninya, rasa syukur yang selalu ada dalam hati dan pikiran membuat seseorang dengan ikhlas menghadapi kerasnya kehidupan. Sebenar-benarnya hidup adalah jalan yang berliku. Matematika pun juga demikian, ada saat tertentu seseorang yang tidak menyukai matematika tiba-tiba menjadi suka. Hal ini dikarenakan faktor dari dalam dan luar, bisa karena materinya mudah, guru yang mengajar menyenangkan, ada motivasi untuk bisa dan sebagainya. Alasan tersebut merupakan salah saru contoh bahwa dalam diri setiap manusia memiliki keinginan untuk merubah hidup yang lebih baik.
Berbicara tentang kehidupan, dalam filsafat kehidupan itu hendakya dijalani bukan dihindari. Menghindari segala hal tanpa mau berusaha menghadapinya itu artinya kita termasuk pada golongan hindarisme. Dalam kehidupan kita mengenal sebab akibat, apa yang kita lakukan pasti ada sebabnya dan akibat dari perbuatan itu. Mempelajari matematika akan terasa mudah jika kita ikhlas hati dan ikhlas pikir. Ikhlas disini diartikan sebagai usaha atau ikhtiar kita untuk mendapatkan ilmu. Hal tersebut berkaitan pula dengan seorang pendidik yang mencoba menghilangkan asumsi yang ada pada siswanya bahwa matematika itu sulit. Sebagai contoh, ketika memilih benda yang kita sukai pastilah ada alasan mengapa menyukai benda itu. Ada hal istimewa dari benda itu sehingga kita menyukainya. Hal tersebutlah yang bisa digunakan oleh guru agar siswa menyukai matematika, apa yang harus dirubah dan ditingkatkan dalam pembelajaran matematika.
Pembelajaran saat ini sudah bukan lagi guru menerangkan panjang lebar di depan kelas, saat ini pembelajaran lebih didominasi oleh siswa. Siswa diberi kesempatan membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan intuisi mereka. Setiap siswa memiliki intuisi dan guru haruslah memahami itu. Siswa akan mudah memahami jika dikaitkan dengan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya. Maka dari itu tugas guru adalah menghadirkan pembelajaran yang bisa dikaitkan dengan kehidupan siswa karena sebenarnya matematika itu sangat dekat dengan kehidupan siswa. Pada dasarnya untuk membuat siswa menyukai matematika ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru diantaranya keinginan siswa untuk mempelajarinya, adanya rasa kemandirian untuk belajar bagi siswa yang menyukai matematika, perlunya belajar bersama dan adanya situasi belajar yang bervariasi. Pembelajaran yang guru laksanakan haruslah disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Menghadirkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan atau keinginan siswa memang tidaklah mudah. Menghadap siswa dengan kemampuan yang heterogen memerlukan kreativitas yang cukup menantang. Bagaimana tidak? Tidak jarang ditemuai bahwa siswa yang pandai mau bekerjasama dengan siswa berkemampuan rendah. Siswa yang pandai cenderung mengerjakan sendiri dan sedikit berkomunikasi atau menjelaskan pekerjaannya pada siswa lain sedangkan siswa berkemampuan rendah hanya bergurau atau melihat saja. Namun ada juga yang tidak demikian.
Keadaan yang tergambar diatas menunjukkan bahwa variasi dalam pembelajaran itu sangat penting. Variasi dalam pembelajaran erat kaitannya dengan metode pembelajaran. Dalam filsafat pendidikan, tidak ada metode pembelajaran yang baik dan benar-benar efektif karena setiap metode pmebelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna. Namun alangkah baiknya jika dalam pembelajaran menerapkan metode hidup. Metode hidup artinya pembelajaran yang diterapkan seperti metode kita menjalani kehidupan. Dalam kehidupan, ada istilah menterjemahkan dan diterjemahkan. Dua hal inilah dapat kita gunakan dalam pembelajaran. Seperti postingan Bapak Marsigit tentang mengadakan pembelajaran dengan menyesuaikan kebutuhan siswa. Dalam postingan tersebut digambarkan bahwa seorang guru membagi siswanya dalam beberapa kelompok sesuai dengan tingkat kemampuan siswanya. Siswa yang berkemampuan tinggi diberikan LKS dan diberikan kesempatan menggunakan pengetahuannya untuk berdiskusi mengerjakan LKS, sesekali diberikan bimbingan hanya ketika siswa kesulitan. Sedangkan siswa yang berkemampuan rendah diberikan LKS dengan tingkat kesulitan sesuai kemampuannya dan diberikan bimbingan serta penjelasan namun tidak serta merta langsung diberikan. Guru memancing siswa tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan agar mengetahui sejauh mana perkembangan belajar siswa.
Sama halnya dalam kehidupan, Tuhan mengabulkan apa yang kita inginkan namun tidak langsung. Sebelumnya kita diuji dengan beberapa hal untuk mengetahui apakah kita pantas mendapatkannya. Sebenar-benarnya kenyamanan dalam hidup adalah ketika kita ikhlas hati dan pikiran. Dalam hidup kita juga telah diajarkan untuk bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang baik tidak selamanya baik begitu pula dengan yang buruk tidak selamanya buruk. Hal tersebut berkaitan dengan niat untuk memperbaiki diri. Begitu pula dengan pembelajaran, dalam satu kelas guru menghadapi siswa pandai, sedang dan rendah. Tidak selamanya siswa yang rendah terus rendah begitu juga dengan yang pandai dan sedang.
Salah satu contoh kejadian yang pernah saya alami yaitu ketika praktek mengajar di salah satu SMP negeri yang tempatnya agak jauh dari kota. Banyak orang yang mengatakan bahwa SMP yang agak jauh dari kota rata-rata prestasi belajarnya masih kurang namun rata-rata mereka memiliki keunggulan dibidang non akademik. Ternyata hal tersebut benar adanya ketika saya di tempat praktek mengajar dengan keadaan sekolah dan siswanya seperti itu. Dari pihak sekolah, kami guru-guru praktikan diminta untuk membantu mengarahkan siswa agar temotivasi belajarnya utamanya dalam bidang akademik. Memang tidak tapi setidaknya kami berusaha mendekati siswa untuk mengetahui apa penyebab mereka kurang berminat dalam pembelajaran. Dan ternyata rata-rata siswa mengatakan bahwa pembelajarannya kurang menyenangkan, tidak bervariatif, terlalu tegang, penjelasan guru kurang jelas, guru hanya memperhatikan siswa yang berkemampuan tinggi saja. Dari situ kami mencoba perlahan-lahan untuk mempraktekkan metode pembelajaran yang telah dipelajari dan tidak lupa divariasikan dengan metode pembelajaran yang lain. Dan hasilnya terjadi perubahan secara perlahan-lahan dari diri siswa itu sendiri. Mereka senang dengan adanya diskusi kelompok, belajar dengan game pembelajaran, belajar dengan bercerita.
Hal yang saya lakukan tersebut ternyata ada kaitannya dengan filsafat pendidikan setelah saya mendapatkan perkuliahan filsafat ilmu. Dalam filsafat ilmu, pembelajaran yang demikian adalah metode hidup. Siswa jadi tahu apa gunanya mereka mempelajari materi-materi itu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Banyak hal yang telah mereka pelajari di sekolah ternyata satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan bisa diterapkan dalam kehidupan sesuai dengan ruang dan waktunya. Dari sinilah saya bisa memahami bahwa pentingya mempelajari filsafat ilmu pendidikan itu dan ternyata apa yang menjadi kendala dalam pembelajaran sebenarnya telah dibahas dalam filsafat ilmu pendidkan. Penting bagi seorang guru untuk memahami kebutuhan siswanya agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, perlunya evaluasi di setiap pembelajaran untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran. Memang bahasa yang digunakan dalam filsafat tidak mudah untuk dimengerti namun jika kita bisa merenungkan dan mengkaitkannya dengan kejadian yang pernah kita alami, akan semakin jelas.


 BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembehasan diatas dapat disimpulkan bahwa pentingnya mempelajari filsafat ilmu pendidikan. Dalam filsafat ilmu telah dibahas ontologi, epistemologi dan aksiologi pendidikan termasuk didalamnya tentang pembelajaran. Pembelajaran dari siswa dan untuk siswa, memberikan kesempatan pad siswa untuk membangun pengetahuannya karena pada dasarnya siswa telah memiliki intuisi. Intuisi siswa yang beragam merupakan salah satu tugas guru untuk mengarahkan intuisi tersebut agar terbentuk suatu pengetahuan yang bermanfaat. Kebermanfataan ilmu akan terasa jika diterapkan dalam kehidupan.
Matematika merupakan pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan siswa. Dalam pembelajaran matematika diperlukan metode hidup untuk mengajarkannya agar bisa lebih mudah dipahami siswa. Kaitkan matematika itu dengan kejadian yang ada dan pernah dialami siswa. Kemampuan siswa yang heterogen memerlukan suatu kreatifitas untuk menghadirkan pembelajaran yang seuai dengan kebutuhan siswa.
 

Blogger news

Blogroll

About