Rabu, 04 November 2015

FILSAFAT PERTEMUAN KEENAM



Filsafat Ilmu Pertemuan ke – 6
“Mencoba Memahami Diri melalui Filsafat”

Rabu, 28 Oktober 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk mengikuti tes tanya jawab singkat. Tes ini seperti biasa, dengan pertanyaan sebanyak 50, dan dijawab secara langsung dalam waktu beberapa detik. Kemudian, kami mencocokkan jawaban dengan jawaban bapak Marsigit. Pertama, kami membahas tentang nihilisme dan fallibisme. Nihilisme itu ada atau tidaknya terikat dengan ruang dan waktu. Jika Fallibilisme itu benar adanya atau benar sesuai kenyataannya. Kemudian tidak memikirkannya secara mendalam. Filsafat bersifat intensif dan radikalisme. Pertanyaannya mudah saja seperti materialnya pikiran, pikiran dimaterialkan dalam bentuk alat hitung maupun buku. Pikirannya material berarti dibentuk dalam hukum-hukum yang terjadi. Materialnya formal adalah bentuk wadah. Kemudian formalnya material, adalah (misalnya) batu peresmian. Fallibisme artinya jika menjawab salah tetap bernilai benar. Contohnya jika anak kecil ditanya tentang suatu rumus matematika, tetapi anak kecil itu menjawab belum diajari maka jawaban anak kecil itu benar. Terkait dengan radikalisme, "radik" adalah akar, tidak peduli baik maupun buruk. Metode berfilsafat itu intensif dan ekstensif. Artinya cabang dari ilmu filsafat tersebut, karena gerak-gerik dan perilakunya sehingga seakan- akan radikalisme itu negatif. Itulah yang disebut dengan stigma. Karena itu tergantung siapa yang mengatakannya. Jika mengatakan itu terus menerus berarti terjebak di dalam mitos, maka kita berfilsafat agar kita bisa mengubah mitos menjadi logos. Dan sebenar benar logos tidak dalam keadaan diam. Dan tidak dalam keadaan diam, masih disintesiskan antara tesis dan anti-tesis. Jika seseorang berada di dalam zona nyaman itu namanya tidak berpikir. Namun tidak mungkin bagi manusia itu tidak berpikir setiap harinya, kita selalu menemukan sesuatu yang baru.
Kemudian dibuka sesi tanya jawab. Berikut pertanyaan dari beberapa mahasiswa beserta jawaban Bapak Marsigit. "Sejauh mana bijak diri dengan bijak pemerintahan?”, Bapak menjawabnya, "Bijak diri itu maksudnya adalah sopan santun diri sendiri yang sesuai dengan ruang dan waktu. Contohnya, Saya menggunakan kemeja batik ketika perkuliahan, bukan menggunakan kaos atau sandal jepit, itulah tidak sopan terhadap ruang dan waktu. Maka sebenar-benar bijak adalah pengetahuan itu sendiri. Orang barat menganggap orang bijak itu yang memiliki pengetahuan, semakin ke timur orang bijak itu tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga memiliki hati nurani. Maka sebenar-benarnya bijak menurut orang barat, adalah orang yang berilmu. "Bagaimana caranya orang yang berilmu berpikir multidimensi dan berpikir dengan bijak?", Beliau menjawab, "Manusia itu suka dan tidak suka menembus ruang dan waktu, tumbuhan, maupun batu pun menembus ruang dan waktu. Semua kata benda saja berawal dengan kata "hari ini, hari esok, dua tahun yang lalu". Kan tidak ada benda yang alergi terhadap ruang dan waktu. Belajar itu mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada, maka setiap yang ada mewakili dunianya. Contohnya, satu kata "ayam", maka bisa dikatakan dunia ayam bahkan bisa membuat buku yang isinya hanya tentang ayam. Setiap kau bisa mengadakan yang mungkin ada, maka bisa meningkatkan satu level dalam dirimu (tergantung keikhlasan)".
Pertanyaan selanjutnya "Mengapa pikiran itu sulit menggapai hati, dan pikiran itu sulit untuk diungkapkan?", Beliau dengan senang hati menjawab pertanyaan tersebut,"Dalam persoalan filsafat itu ada 2, menjelaskan apa yang kau ketahui? yang kedua memahami apa yang ada di pikiranmu? Semua jawaban itu tidak ada yang memuaskan karena itu bersangkut paut dengan ontologisnya, karena manusia itu bersifat terbatas, manusia itu tidak mampu menuliskan semua pikirannya. Tidak akan mampu memikirkan semua relung hati. Karena itulah manusia itu bisa hidup. Perasaan dan pikiran itu lebih luas daripada laut. Hati itu seluas ciptaan Tuhan jika dikehendaki oleh Tuhan. Kita bisa berempati kepada semua makhluk Tuhan. Itulah keterbatasan manusia. Sebagai contoh ketika kita berdoa, pikiran kita harus berhenti. Itulah yang dinamakan ikhlas. Doa yang paling tinggi levelnya adalah dengan menyebut namanya Tuhan. Masalahnya, bermilyar - milyar dirimu menyebut namaNya, belum tentu semuanya dikabulkan.
"Filsafat itu luas, maka adakah filsafat untuk orang-orang atheisme?". Beliau menjelaskan,"Saya katakan filsafat itu diri kita masing-masing, diri kita masing-masing itu siapa? diriku dirimu? Karena filsafat itu diriku dirimu, maka mengambil formula bahwa filsafat itu didasari oleh spiritual sehingga tidak melenceng dari spiritualitas masing-masing. Belum tentu mereka punya Tuhan, filsafat itu olah pikir yang refleksif dan menjawab pertanyaan "mengapa". Berfilsafat itu metafisika setelah yang fisik. Contohnya jiwamu, modalmu, karyamu dst. Siapakah sebenar-benarnya saya, diberi waktu yang banyak aku tidak bisa menyebut diri saya. Semakin ke bawah semakin plural, semakin ke atas semakin mono, yaitu kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Semakin ke atas adalah semakin identitas, semakin ke bawah itu kontradiksi. Maka yang kontradiksi para daksa, yang identitas para dewa. Jangan salah paham, ayam itu dewanya cacing, namun cacing tidak bisa melihat kesalahan ayam. Dalam pendidikan, sebenar-benarnya guru adalah fasilitator. Momok dalam siswa saat ini adalah matematika, namun yang sebenarnya momok adalah guru itu sendiri. Sedangkan guru tidak menyadari bahwa dirinya yang banyak memakan ruang dan waktu. Kesimpulan yang dapat kita ambil dari pembahasan di atas adalah manusia terikat pada ruang dan waktu, dan sesuatu yang bisa dikatakan benar, memang seperti itulah kenyataannya yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Jadilah orang yang bijaksana terhadap ruang dan waktu, bijak tergantung juga terhadap hati dan pikiran, manusia tidak bisa menggapai hati dan pikiran karena manusia pada dasarnya terbatas. Namun dari itu semua manusia dapat dan dikatakan hidup. Dalam hidup menyeimbangkan antara hati dan pikiran yang bersih sehingga tumbuhlah keikhlasan, hati dan pikiran yang bersih tercapai dengan ikhtiar kita pada-Nya. Maka disamping meningkatkan ilmu penting pula meningkatkan spiritualitas.

1 komentar:

 

Blogger news

Blogroll

About