Senin, 28 Desember 2015

Filsafat Ilmu Pertemuan ke-10



Filsafat Ilmu Pertemuan ke-10
“Kesempatan Bertanya”

Rabu, 2 Desember 2015, seperti biasa kami mengikuti perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk mengikuti proses perkuliahan. Hari ini beliau kembali mengadakan tes jawab singkat. Tes jawab singkat kali ini berbeda karena setelah selesai tes jawab singkat sesi koreksi kami semua diminta menyalahkan semua jawaban kami. Nilai sudahlah tentu kami mendapat 0. Ternyata ada maksud tersendiri dari sikap bapak ini.dan bapak pun mulai menjelaskan. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya tes jawab singkat itu adalah mitosnya bagi kami semua. Maksud bapak Marsigit mengemukakan nilai 0 seperti ini untuk menyempurnakan, sehingga tidak ada yang memiliki nilai-nilai yang lain. Bapak menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu disombongkan, dalam tanya jawab singkat itu sebenarnya berupa penjelasan dengan bahasa kita sendiri. Menurut bapak, tes tanya jawab seperti ini bukan jalannya filsafat. Filsafat itu membaca dan olah pikir sehingga bapak meminta untuk membaca elegi dengan ikhlas pikir dan ikhlas hati.
Dalam ilmu terdapat kontradiksi. Dalam soal tes tanya jawab, terdapat identitas dan identitas masyarakat. Alasan jawaban kami disalahkan karena memang belum sampai pada dimensinya. Maka, pada saat ini juga kami diminta untuk bertanya seputar tes tanya jawab tadi. Berikut ini jawaban beberapa pertanyaan tersebut. Fatalnya vital, vital itu diartikan sebagai ikhtiar, sedangkan fatalnya adalah doa. Mereka ada dalam satu rangkaian. Doa itu kontekstual dengan ruang dan waktu. Ikhtiarnya doa, berusaha kemudian berdoa seperti ingin naik haji maka harus mendaftar terlebih dahulu. Seperti itulah contoh dari fatalnya vital. Beliau juga mengatakan bahwa dalam melakukan sesuatu itu penting untuk menyebut nama Tuhan.
Selanjutnya sikliknya linear, linearnya siklik, linearnya itu tidak akan bergerak pada tempat yang sama. Begitu pula, lingkaran itu juga tidak selalu pada tempat yang sama. Hari selalu berjalan, waktu pun juga berjalan dan tidak mungkin tidak ada perubahan dari hari ke hari selanjutnya. Intensifnya ekstensif, ekstensifnya intensif. Pengertian dalam ontologinya itu diuraikan seluas-luasnya. Intensifnya itu radik, artinya filsafat itu bisa dieksplorasi sedalam-dalamnya. “Rasionalnya pengalaman”, memikirkan pengalaman. ‘Pengalamannya rasional”, dimana ketika kita memikirkan ingin melakukan sesuatu, maka lakukanlah sesuatu itu dan jangan ditunda.
Dewanya daksa. Subjek dan predikat tidak bisa saling dipisahkan. Jadi ibaratnya “jika aku ada, maka engkau juga ada”. Disharmoninya harmoni, harmoninya disharmoni. Sebenar-benarnya kebahagian manusia yaitu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan absolut. Manusia itu hidup sempurna dalam ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan juga ada dalam kesempurnaan. Jika kesempurnaan itu ada dalam kesadaran, maka akan tidak bebas dalam hidup kita karena terlalu menyadari semua sesuatu yang terjadi pada diri sendiri.
Kemudian analitiknya sintetik yaitu memikirkan pengalaman. Analitik itu logika, sintetik itu pengalaman. Sintetik merupakan pasangan dengan apriori. Membaca elegi termasuk melaksanakan filsafat. Membaca yang membuat kita berpikir itu berarti kita bisa berfilsafat. “Identitasnya kontradiksi, kontradiksinya identitas” dapat dicontohkan dengan A yang ada pada ruas kiri sama dengan A+1. Prinsip ini ada pada ilmu komputer, jika tidak ada rumus ini maka program pada komputer pun tidak akan berproses. Sehingga identitas ini mengalami kontradiksi karena sifat itu termuat kedalam subjeknya. Kontradiksi di dalam dunia ini adalah kuasa Tuhan, karena kuasa Tuhan itu absolut. Tak ada yang bisa melawan-Nya. Karena terjadi seperti itu, maka sebenarnya manusia itu kontradiksi.

Jumat, 04 Desember 2015

REFLEKSI PERTEMUAN KESEMBILAN



Filsafat Ilmu Pertemuan ke 9
Hubungan Compte dan Kehidupan

Rabu, 18 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk mengikuti proses perkuliahan. Kemudian ada tes jawab singkat selanjutnya penjelasan dari Bapak Marsigit. Filsafat itu mencakup beberapa macam konteks yang berkaitan dengan hal - hal dalam hidup kita. Bapak mencontohkan tentang etnomatika yaitu pembelajaran matematika berbasis budaya. Pembelajaran ini untuk memperkaya fondasi dengan landasan budaya, dimana tetap berorientasi kepada siswa. Beliau menyampaikan bahwa mitos semestinya dipikirkan, namun pada kenyataannya tidak dipikirkan. Contoh mitos yang ada itu banyak sekali karena kehidupan ini penuh dengan mitos. Contohnya terbentuknya pelangi dari turunnya bidadari, orang beranggapan bidadari turun ke bumi untuk mandi dan warna-warna pelangi itu menunjukkan selendang bidadari yang membentuk seperti jembatan. Ternyata itu hanyalah mitos yang telah dicari kebenarannya bahwa pelangi itu hasil pembiasan sinar matahari dari uap air/awan. Mitos dan logos itu relatif, bukan absolut. Sebanyak apapun kita menyebutkan mitos tidak akan bisa mendefinisikan mitos karena dunia itu ada batas – batasnya. Linear maupun siklis. Shalat dan doa pun bisa berubah menjadi mitos, jika kita tidak memikirkannya dan tidak tahu artinya. Hidup ini setengah mitos dan setengah logos. Matematika mengatakan setengah ditambah setengah maka sama dengan satu, tetapi filsafat berkata setengah ditambah setengah itu bisa bukan sama dengan satu. Sehingga dapat ditambahkan pula bagian itu ada iman dan taqwa. Hal itu menunjukkan bahwa kita sudah bisa melihat fenomena tersebut, maka dimensi kita sudah lebih tinggi.
Berbicara tentang hermenetika dalam konteks agama dan kitab suci. Semua tergantung ruang dan waktu konsepnya, semua tergantung rumusnya. Jika filsafat disampaikan terlalu singkat maka sangat menyakitkan untuk orang lain. Mengembangkan formula pada hermeneutika dimana kita tahu fenomena saintifik itu fenomena menukik/menajam. Hidup itu fenomenya lengkap, pilarnya  menukik, mengalir dan mengembang. Jika orang barat itu linier, maka bijaksananya orang barat itu dapat mencari sampai ke Mars. Itu artinya hidup seperti spiral, hari ini ketemu rabu, besok ketemu rabu begitu seterusnya. Semua harus kita bersyukur, dalam hidup kita membangun kepercayaan, keluarga, rasa cinta. Maka semua itu butuh ilmu untuk membangunnya.
Ada Theisme dan Pantheisme, dimana theisme itu percaya pada Tuhan sedangkan pantheisme itu satu Tuhan-Nya. Seperti salah satu negara yang mempunyai banyak Tuhan sampai-sampai dengan hal-hal yang disukai, fanatik, hingga maniak dijadikan Tuhan. Bila kita cermati, semua itu kita pikirkan tidak ada habisnya. Hal ini berarti Tuhan itu dimarginalkan. Humanisme dalam pandangan filsafat dengan psikologi berbeda, dalam psikologi humanisme itu manusiawi sedangkan dalam filsafat itu berpusat kepada manusia. Pemikiran itu memiliki dimensi, batas, dan makna. Itulah pentingnya membaca agar mengetahui dimensi dan strukturnya, sesuai dengan ruang dan waktunya. Dari beberapa fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat itu memiliki kehidupan, makna, arti. Filsafat yang belum dibuktikan itu adalah mitos, dan yang sudah terbukti yaitu logos.
Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa hidup itu banyak sekali mitos yang mengelilinginya maka tentu banyak pula fenomena-fenomena yang terjadi. Salah satu fenomena itu adalah fenomena Compte. Entah orang-orang tahu atau tidak apa itu fenomena Compte namun yang pasti tejadi saat ini mereka terjangkit fenomena. Bagaimana tidak? Dalam pemikiran positif Compte, Comte memarginalkan Tuhan. Fenomena Comte menempatkan metode saintifik atau positif diatas spiritual tersebut, dampak fenomena Comte sudah dirasakan dalam kehidupan saat ini. Begitu berkuasanya positif sehingga negara kita pun yang pada hakikatnya adalah bangsa yang menjunjung tinggi aspek spiritual di atas segalanya saat ini sedang dalam masa pergeseran akibat bayang-bayang fenomena Comte ini. Perkembangan teknologi sebagai bentuk powernow yang merupakan produk kemenangan Comte telah banyak terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.
Memang penting pula kita mempunyai alat komunikasi seperti hp namun saat ini kita seperti kesurupan dan diperbudak oleh barang kecil itu. Bagaimana tidak? Kita rela merogoh uang dengan jumlah yang amat besar untuk membeinya dan semakin canggihnya hp maka harganya semakin mahal. Dan hampir setiap tahun perusahaan pembuat hp berlomba-lomba mencetak hp tercanggih dan naasnya tidak sedikit dari kita yang tergiur untuk membelinya. Akibatnya banyak hal yang amat sangat penting daripada membeli hp menjadi terbengkalai dan justru membuat komunikasi langsung antarsesama manusia menjadi kurang. Mereka hingga lupa bagaimana berkomunikasi yang baik dengan sesamanya.
Tidak berhenti sampai disitu. Kita lihat generasi muda saat ini,mereka seperti tidak mau lepas dengan hp. Kemana-mana hp, jika hp hilang mereka seperti kehilangan nyawanya. Karena hp pula mereka tidak memerhatikan keadaan sekitarnya terlebih orang tua. Mereka rela meminta uang banyak hanya untuk mendapatkan hp terbaru tanpa memerhatikan susahnya orang tua mencari uang. Mereka sudah tidak lagi merasakan sebenar-benarnya dunia anak-anak. Bagaimana tidak? Dulu begitu banyak mainan tradisional anak-anak dan lagu anak-anak yang sifatnya mendidik dan mengandung petuah bijak namun saat ini mereka sudah hilang ditelan bumi. Mereka terpajang cantik di museum, dinding rumah, di pigura atau bahkan diletakkan di gudang. Anak-anak sudah tidak lagi mengenalnya dan kalau pun dikenalkan hanya sedikit sekali dari mereka yang antusias. Pengawasan orang tua sangatlah penting agar anak-anak itu tidak semakin terjerumus, memberikan contoh dan bekal pendidikan yang baik pada anak adalah salah satu upaya untuk meminimalisir dampak perkembangan teknologi. Untuk itu, senantiasa tetapkan hati dan pikiran kita menjalani hidup agar selalu ada pada jalan-Nya dan mengisinya dengan aspek spiritual dan kegiatan positif sehingga menjadi insan yang beriman dan menjunjung tinggi nilai agama dan budaya bangsa sendiri.



Kamis, 19 November 2015

FILSAFAT ILMU PERTEMUAN KE 8



Filsafat Ilmu Pertemuan ke 8
“Apa yang Seharusnya Kita Lakukan Saat Ini”

Rabu, 11 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Memasuki materi, beliau menyampaikan bahwa filsafat itu intensif dan ekstensif, dipengaruhi oleh ada, pengada, dan mengada. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk menyikapi powernow pada saat ini kita harus menghadapi dengan cara berfilsafat. Ada yang namanya scientific, dimana ukuran metode scientific itu sepertiga dari dunia. Fenomena menukik, intensif itu meneliti. Ada fenomena lain yaitu mendatar, misalkan hari rabu ini bertemu dengan hari rabu lagi. Sedangkan fenomena powernow itu dengan fenomena linear namun tidak mengetahui sampai mana garis tersebut. Adapun yang dibangun dalam diri kita, misalkan, inner beauty, kecantikan, doa.
Metode saintifik yang berkembang di Indonesia yang terdiri dari aspek mengamati, menanya, dan mencoba, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Namun metode saintifik tidak bisa digunakan dalam hidup, misalnya metode saintifik tidak bisa digunakan untuk menikah. Pada metode saintifik yang sebenarnya ada aspek hipotesis dihilangkan dari struktur. Hipotesis itu berpendapat, setelah berpendapat kemudian dicoba. Metode pembelajaran itu harus diatur secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak bisa sembarangan. Indonesia itu negara kecil dan lemah, sehingga menjadi cabang powernow. Maka pejabat sekarang itu tidak mempedulikan budi pekerti dan mementingkan diri sendiri. Satu sama lain bisa saja saling menjajah, demokrasi hanyalah slogan namun uang tetap berjalan serta korupsi merajalela.
Fenomena Compte, contohnya alam diri kita sendiri, handphone kita tidak hanya satu, namun ada lebih dari satu. Dengan adanya teknologi ada fenomena tecnopolly, menyerahnya budaya di telapak kaki teknologi. Orang bisa merekayasa budaya baru untuk kepentingannya. Semua orang mengikuti teknologi, memiliki hp baru kecuali orang sufi. Oleh karena itulah, Indonesia termasuk darurat budi pekerti. Negara kita kalau digambarkan seperti anak ayam dan negara adikuasa digambarkan oleh burung rajawali. Jadi, sekali saja anak ayam itu melawan, akan terkena pukulan kaki burung rajawali. Artinya negara Indonesia itu masih tergolong kecil dan kurang kuat.
Selain menjelaskan hal diatas beliau juga menjelaskan seorang individu  yang bersifat kaku. Kaku itu tidak flexibel sehingga kesulitan menembus ruang dan waktu. Kaku ini mungkin dia memiliki prinsip. Prinsip adalah postulat dan sesuai konteks ruang dan waktunya. Misalnya, masuk rumah harus mencuci kaki atau tangan dulu. Jika diterapkan absolut, bisa menjadi masalah, karena kaku itu dimensinya tunggal, berusaha tertutup oleh ruang dan waktu. Beliau menyampaikan bahwa sebenar-benarnya orang kaku bisa disebut dengan orang yang bodoh daan tidak cerdas. Pikirannya juga seperti batu dan tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Oleh karena itu, pentingnya komunikasi dan luwes sehingga sopan yang sebenarnya itu luwes serta bisa memahami orang lain.
Dari penjelasan Bapak hari ini saya mengambil kesimpulan bahwa sebuah metode itu tidak semuanya dapat digunakan. Sama seperti kita belajar teori yang disampaikan guru di kelas, belum tentu teori itu bisa digunakan pada kehidupan nyata sehingga membuat terjadinya kontradiksi. Oleh sebab itu, kita harus pandai dalam menyaring hal yang baik dan yang tidak baik untuk diri kita, jangan sampai kita mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang bisa merusak diri sendiri. Hal yang dapat membentengi kita dari pengaruh buruk adalah senantiasa ikhtiar pada-Nya, meminta perlindungan pada-Nya karena sesungguhnya hanya Allah SWT yang kuasa atas semua yang ada di dunia ini.

Minggu, 08 November 2015

REFLEKSI FILSAFAT PERTEMUAN KETUJUH



Refleksi Filsafat Ilmu Pertemuan ke 7

Rabu, 4 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Hari ini perkuliahan tidak seperti biasanya karena ketika Bapak Marsigit memasuki ruangan kami diminta untuk duduk dengan meja. Namun tetap seperti biasa kami tidak menulis tetapi merekam suara bapak Prof Marsigit dalam proses pembelajaran. Beliau menyampaikan didalam filsafat pokok persoalan meliputi ada dan mungkin ada. Keterbatasan manusia tidak bisa menyebut semuanya. Jika manusia bisa menyebut semuanya, maka manusia tidak akan bisa hidup. Manusia reduksionisme yang artinya membangun dunia pikiran diri sendiri. Misalnya, ingin membangun rumah, maka kita membeli material seperti batu, semen, pasir, dll. Dalam filosofinya, kita bisa memilih karakter, yang mana tesisnya tetap dan anti tesisnya berubah. Tokoh filsafat yang menganggap dunia itu tetap adalah Fermenides, sedangkan yang menganggap dunia itu berubah adalah Heracritos. Tetap itu untuk manusia adalah makhluk Tuhan hingga nanti. Manusia tidak bisa parsial, maka manusia menuju sempurna. Dunia yang tetap terdapat di dalam pikiran, dan yang berubah terdapat di luar pikiran. Di dalam pikiran dalam filsafat disebut idealisme sedangkan di luar pikiran dalam filsafat disebut realisme. Yang ada disebut dengan mono, dalam filsafat disebut monoisme. Yang mungkin ada disebut dengan jamak, dalam filsafat disebut pluralisme. Yang ada tempat berdomisilinya para dewa (misal orang tua) sedangkan yang mungkin ada berdomisili para daksa (yaitu anak-anak). Pemikiran untuk para dewa adalah abstrak sedangkan untuk daksa yaitu konkrit. Yang ada merupakan analitik dan a priori, sedangkan yang mungkin ada merupakan sintetikdan a posteriori. Beliau juga mengatakan bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah sintetik apriori yang merupakan pemikiran dan pengalaman itu ada. Karena seseorang memiliki pengalaman, maka muncullah empirisme dengan tokohnya, David Hum. Jika itu hanya pikiran maka disebut dengan rasionalisme, dengan tokohnya Rene Descartes. Struktur dunia terdiri dari ada dan yang mungkin ada.
Jaman filsafat modern berada sekitar tahun 1671. Tahun 3000 SM hingga 1671 terjadi perkembangan pemikiran, sehingga muncul pula jaman kegelapan pada abad ke 13-16. Pada jaman tersebut muncul pemikiran dominasi kebenaran oleh gereja, dimana siapapun tidak boleh mencari kebenaran, kebenaran absolut dikendalikan oleh gereja. Karena jika ada yang mencari kebenaran itu sudah dianggap melanggar aturan sehingga hukuman pun berlaku. Korban dalam masa itu contohnya Galileo Galilei, yang mana beliau melakukan percobaan dalam mengukur kecepatan suara, beliau melakukan percobaan di gunung, kemudian dengan menggunakan api juga, sehingga dianggap melakukan praktik perdukunan. Ada banyak sekali korban pada saat itu, namun tidak bisa disebutkan satu per satu. Kemudian, mereka membangkitkan kembali filsafat lama dengan tokohnya Aristoteles dan Plato. Setelah Turki kalah, ditemukan dokumen tersebut oleh orang barat sehingga ada modal untuk perkembangan filsafat modern. Kemudian berkembanglah rasionalisme dan pengalaman, biasanya disebut intuisi, aksioma-aksioma, dan postulat. Postulat itu milik para dewa. Jadi, dalam berfilsafat juga terdapat benar maupun salah. Contohnya, "aturan para siswa" dinilai salah, yang benar adalah "aturan sekolah dilaksanakan para siswa" karena tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Descartes beserta pengikutnya mengemukakan bahwa ilmu itu harus berdasarkan pikiran. Sebenar-benarnya ilmu itu di atas pengalaman. Pendapat itulah yang menyebabkan perdebatan diantara para ahli saat itu. Kemudian lahir filsafat yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yang disebut kanialisme, Kant mendamaikan perdebatan antara kedua belah pihak, beliau menganggap Rene Descartes itu terlalu mendewakan pikiran tetapi melupakan pengalaman dan menganggap David Hum yang terlalu mendewakan pengalaman tetapi melupakan pikiran. Sehingga Kant menggabungkan dua unsur  yang berlaku bagi kedua belah pihak yaitu sebenar-benar ilmu adalah unsur pikiran (apriori) dan unsur pengalaman (sintetik) sehingga disebut dengan sintetik apriori.
Dalam filsafat juga mengenal transenden yang disebut transendentalisme. Menurutnya pemikiran itu ada yang di atas, dan adapula ada yang di bawah. Dari bawah berdasarkan persepsi, kesadaran, dan imajinasi sedangkan yang paling bawah adalah sensasi. Itulah proses lahirnya pengetahuan. Adapun bentuk formal (formalisme), logika (logicism), koheren (koherenisme), korespondensi. Sehingga sampailah pada elegi yang disebut "bendungan comte”. Auguste Compte adalah orang berkebangsaan Perancis, mahasiswa politeknik namun dia telah di drop out karena pada dasarnya dia tidak suka menghitung, dia lebih suka menulis. Sehingga dari menulis lahirlah buku dengan aliran filsafat Positivisme. Beliau menjelaskan bahwa tidak menggunakan agama karena irrasional. Diatas agama, terdapat filsafat, diatasnya lagi terdapat Positivisme (saintifik). Jadi, kurikulum 2013 saat ini didefinisikan kemenangan Auguste Compte.
Kurikulum 2013 itu berbasis spiritualisme, Auguste Compte menganggap itu irrasional. Struktur filsafat itu adalah material, formal, normatif, dan spiritual. Spiritual merupakan hal tertinggi dan paling penting dalam berfilsafat. Sehingga dalam struktur filsafat digambarkan dari yang rendah, yaitu archae (masyarakat batu), tribal (sebenar-benarnya tribal adalah dewanya batu), kemudian tradisional, feudal, modern, post modern, dan yang paling atas yaitu power now. Sehingga dapat kita bayangkan kondisi negara Indonesia saat ini dalam konteks luas, negara, ideologi, jati diri yang kecil. Setiap hari dibanjiri pengaruh dari luar yang seringkali sulit sekali ditolak. Sehingga berdampak kita tidak memiliki jati diri. Tetapi jika mempunyai jati diri maka presiden harus memiliki spiritual dan berkarakter. Adapula presiden yang sudah terlena dengan kekuasaan sampai-sampai ingin menjadi presiden seumur hidup. Beliau menggambarkan adanya gunung-gunung dan pantai, kita diibaratkan ikan yang sedang berenang di lautan. Yang diatas lahir ilmu-ilmu dasar naturalisme dll sedangkan dibawah adalah ilmu -ilmu humaniora. Secara tidak sadar Indonesia telah digerogoti oleh ilmu humaniora. Mereka mengambil kesempatan untuk pribadi dan golongan contohnya pejabat. Maka pejabat sekarang juga sesuai keinginan sendiri serta menterinya pun juga seperti itu.
Adapun para pejuang dunia yang ditopang oleh kapitalisme, pragmatisme, utilitarianisme, hedonisme, liberalisme. Sesuai paham itu, para pemimpin dipilih dari universitas, bukan dari latar belakang pendidikan. Dengan belajar filsafat, diibaratkan semua limbah mengalir ke laut, tidak mau diproduksi oleh powernow. Ibaratkan air laut sudah banyak tercemar, maka orang-orang seperti kita tidak berani untuk mengungkapkan pendapat secara langsung, nantinya akan berdampak pada stabilitas. Filsafat itu membangun diri sendiri, berbeda dengan politik yang harus mengumpulkan banyak orang. Saat ini yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan terhadap ruang dan waktunya. Saat ini dalam dunia pendidikan sedang diterapkan "bela negara". Menurut Bapak Marsigit, bela negara itu berdimensi dan berstruktur. Bela negara harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalkan, menggambarkan suatu peristiwa dengan berfilsafat dengan bahasa yang lain. Salah satu cara menngungkapkannya yaitu dengan elegi. Elegi itu menggambarkan anti tesis agar berpikir dan tidak terjerumus ke dalam hidup yang parsial. Dalam bela negara, bisa melalui tulisan contohnya berelegi. Filsafat memiliki banyak perangkat sehingga kita bisa menerapkan bela negara dengan berbagai cara. Terdapat salah seorang mahasiswa yang menanyakan perihal  kurikulum 2013, "Kita harus selalu berinovasi dalam proses pendidikan. Sedangkan materinya banyak sekali. Bagaimana caranya agar dalam kurun waktu yang sediakan cukup untuk menyampaikan materi?". Bapak Marsigit menjawab, "Coba contoh pembelajaran saya, saya menciptakan inovasi dengan blog elegi. Dengan begitu, materi tersampaikan semua. Ini merupakan contoh pembelajaran juga untuk mahasiswa". Meninjau kembali bahwa pernyataan "kurikulum 2013 adalah kemenangan Auguste Compte. Mengapa spiritual itu masih ada di dalam kurikulum 2013?". Bapak menjawab, "Dengan ontologi saintifik, mereka, para pejabat tidak ingin mengungkapkan pernyataan yang tinggi padahal pada kenyataan sejarahnya seperti itu, Positivisme adalah kemenangan Auguste Compte, mereka tidak mengakuinya, mereka hanya mengungkapkan bahwa tatap masa depan saja, sehingga negara tidak mengetahui sejarah negaranya jadi berkarakter lemah, maka metode saintifik itu mengamati dan menanya itu tidak punya makna. Dalam kenyataannya, pada scientific methods yang mana isinya mencantumkan hipotesis. Di Indonesia, struktur "menanya" dalam scientific methods diibaratkan untuk membuat hipotesis. Sebenar-benarnya hipotesis itu diterima atau ditolak dengan percobaan. Ternyata pimpinan canggung, pakarnya juga canggung. Kurikulum 2013 itu dianggap masih mitos, untuk itu filsafat digunakan untuk memerdekakan diri dari kesemena-menaan dari kepala sekolah, pemerintah dll”.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus membangun dunia kita sendiri, membangun pikiran kita sendiri dengan didasari oleh spiritual dan tetap sopan terhadap ruang dan waktu. Sadar akan apa yang terjadi pada dunia, negaramu dan terlebih lagi pada keadaan sekitar. Berpikir setinggi-tingginya, agar tidak terjebak ke dalam mitos dan parsial. Dalam dunia   pendidikan kita gunakan ilmu dan pengetahuan sebaik-baiknya untuk mewujudkan dunia yang solid dan kuat yang mampu berpegang teguh pada ciri khas kepribadian bangsa dan negaranya (memiliki jati diri yang sesungguhnya).

 

Blogger news

Blogroll

About