Kamis, 19 November 2015

FILSAFAT ILMU PERTEMUAN KE 8



Filsafat Ilmu Pertemuan ke 8
“Apa yang Seharusnya Kita Lakukan Saat Ini”

Rabu, 11 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Memasuki materi, beliau menyampaikan bahwa filsafat itu intensif dan ekstensif, dipengaruhi oleh ada, pengada, dan mengada. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk menyikapi powernow pada saat ini kita harus menghadapi dengan cara berfilsafat. Ada yang namanya scientific, dimana ukuran metode scientific itu sepertiga dari dunia. Fenomena menukik, intensif itu meneliti. Ada fenomena lain yaitu mendatar, misalkan hari rabu ini bertemu dengan hari rabu lagi. Sedangkan fenomena powernow itu dengan fenomena linear namun tidak mengetahui sampai mana garis tersebut. Adapun yang dibangun dalam diri kita, misalkan, inner beauty, kecantikan, doa.
Metode saintifik yang berkembang di Indonesia yang terdiri dari aspek mengamati, menanya, dan mencoba, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Namun metode saintifik tidak bisa digunakan dalam hidup, misalnya metode saintifik tidak bisa digunakan untuk menikah. Pada metode saintifik yang sebenarnya ada aspek hipotesis dihilangkan dari struktur. Hipotesis itu berpendapat, setelah berpendapat kemudian dicoba. Metode pembelajaran itu harus diatur secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak bisa sembarangan. Indonesia itu negara kecil dan lemah, sehingga menjadi cabang powernow. Maka pejabat sekarang itu tidak mempedulikan budi pekerti dan mementingkan diri sendiri. Satu sama lain bisa saja saling menjajah, demokrasi hanyalah slogan namun uang tetap berjalan serta korupsi merajalela.
Fenomena Compte, contohnya alam diri kita sendiri, handphone kita tidak hanya satu, namun ada lebih dari satu. Dengan adanya teknologi ada fenomena tecnopolly, menyerahnya budaya di telapak kaki teknologi. Orang bisa merekayasa budaya baru untuk kepentingannya. Semua orang mengikuti teknologi, memiliki hp baru kecuali orang sufi. Oleh karena itulah, Indonesia termasuk darurat budi pekerti. Negara kita kalau digambarkan seperti anak ayam dan negara adikuasa digambarkan oleh burung rajawali. Jadi, sekali saja anak ayam itu melawan, akan terkena pukulan kaki burung rajawali. Artinya negara Indonesia itu masih tergolong kecil dan kurang kuat.
Selain menjelaskan hal diatas beliau juga menjelaskan seorang individu  yang bersifat kaku. Kaku itu tidak flexibel sehingga kesulitan menembus ruang dan waktu. Kaku ini mungkin dia memiliki prinsip. Prinsip adalah postulat dan sesuai konteks ruang dan waktunya. Misalnya, masuk rumah harus mencuci kaki atau tangan dulu. Jika diterapkan absolut, bisa menjadi masalah, karena kaku itu dimensinya tunggal, berusaha tertutup oleh ruang dan waktu. Beliau menyampaikan bahwa sebenar-benarnya orang kaku bisa disebut dengan orang yang bodoh daan tidak cerdas. Pikirannya juga seperti batu dan tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Oleh karena itu, pentingnya komunikasi dan luwes sehingga sopan yang sebenarnya itu luwes serta bisa memahami orang lain.
Dari penjelasan Bapak hari ini saya mengambil kesimpulan bahwa sebuah metode itu tidak semuanya dapat digunakan. Sama seperti kita belajar teori yang disampaikan guru di kelas, belum tentu teori itu bisa digunakan pada kehidupan nyata sehingga membuat terjadinya kontradiksi. Oleh sebab itu, kita harus pandai dalam menyaring hal yang baik dan yang tidak baik untuk diri kita, jangan sampai kita mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang bisa merusak diri sendiri. Hal yang dapat membentengi kita dari pengaruh buruk adalah senantiasa ikhtiar pada-Nya, meminta perlindungan pada-Nya karena sesungguhnya hanya Allah SWT yang kuasa atas semua yang ada di dunia ini.

Minggu, 08 November 2015

REFLEKSI FILSAFAT PERTEMUAN KETUJUH



Refleksi Filsafat Ilmu Pertemuan ke 7

Rabu, 4 November 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Hari ini perkuliahan tidak seperti biasanya karena ketika Bapak Marsigit memasuki ruangan kami diminta untuk duduk dengan meja. Namun tetap seperti biasa kami tidak menulis tetapi merekam suara bapak Prof Marsigit dalam proses pembelajaran. Beliau menyampaikan didalam filsafat pokok persoalan meliputi ada dan mungkin ada. Keterbatasan manusia tidak bisa menyebut semuanya. Jika manusia bisa menyebut semuanya, maka manusia tidak akan bisa hidup. Manusia reduksionisme yang artinya membangun dunia pikiran diri sendiri. Misalnya, ingin membangun rumah, maka kita membeli material seperti batu, semen, pasir, dll. Dalam filosofinya, kita bisa memilih karakter, yang mana tesisnya tetap dan anti tesisnya berubah. Tokoh filsafat yang menganggap dunia itu tetap adalah Fermenides, sedangkan yang menganggap dunia itu berubah adalah Heracritos. Tetap itu untuk manusia adalah makhluk Tuhan hingga nanti. Manusia tidak bisa parsial, maka manusia menuju sempurna. Dunia yang tetap terdapat di dalam pikiran, dan yang berubah terdapat di luar pikiran. Di dalam pikiran dalam filsafat disebut idealisme sedangkan di luar pikiran dalam filsafat disebut realisme. Yang ada disebut dengan mono, dalam filsafat disebut monoisme. Yang mungkin ada disebut dengan jamak, dalam filsafat disebut pluralisme. Yang ada tempat berdomisilinya para dewa (misal orang tua) sedangkan yang mungkin ada berdomisili para daksa (yaitu anak-anak). Pemikiran untuk para dewa adalah abstrak sedangkan untuk daksa yaitu konkrit. Yang ada merupakan analitik dan a priori, sedangkan yang mungkin ada merupakan sintetikdan a posteriori. Beliau juga mengatakan bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah sintetik apriori yang merupakan pemikiran dan pengalaman itu ada. Karena seseorang memiliki pengalaman, maka muncullah empirisme dengan tokohnya, David Hum. Jika itu hanya pikiran maka disebut dengan rasionalisme, dengan tokohnya Rene Descartes. Struktur dunia terdiri dari ada dan yang mungkin ada.
Jaman filsafat modern berada sekitar tahun 1671. Tahun 3000 SM hingga 1671 terjadi perkembangan pemikiran, sehingga muncul pula jaman kegelapan pada abad ke 13-16. Pada jaman tersebut muncul pemikiran dominasi kebenaran oleh gereja, dimana siapapun tidak boleh mencari kebenaran, kebenaran absolut dikendalikan oleh gereja. Karena jika ada yang mencari kebenaran itu sudah dianggap melanggar aturan sehingga hukuman pun berlaku. Korban dalam masa itu contohnya Galileo Galilei, yang mana beliau melakukan percobaan dalam mengukur kecepatan suara, beliau melakukan percobaan di gunung, kemudian dengan menggunakan api juga, sehingga dianggap melakukan praktik perdukunan. Ada banyak sekali korban pada saat itu, namun tidak bisa disebutkan satu per satu. Kemudian, mereka membangkitkan kembali filsafat lama dengan tokohnya Aristoteles dan Plato. Setelah Turki kalah, ditemukan dokumen tersebut oleh orang barat sehingga ada modal untuk perkembangan filsafat modern. Kemudian berkembanglah rasionalisme dan pengalaman, biasanya disebut intuisi, aksioma-aksioma, dan postulat. Postulat itu milik para dewa. Jadi, dalam berfilsafat juga terdapat benar maupun salah. Contohnya, "aturan para siswa" dinilai salah, yang benar adalah "aturan sekolah dilaksanakan para siswa" karena tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Descartes beserta pengikutnya mengemukakan bahwa ilmu itu harus berdasarkan pikiran. Sebenar-benarnya ilmu itu di atas pengalaman. Pendapat itulah yang menyebabkan perdebatan diantara para ahli saat itu. Kemudian lahir filsafat yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yang disebut kanialisme, Kant mendamaikan perdebatan antara kedua belah pihak, beliau menganggap Rene Descartes itu terlalu mendewakan pikiran tetapi melupakan pengalaman dan menganggap David Hum yang terlalu mendewakan pengalaman tetapi melupakan pikiran. Sehingga Kant menggabungkan dua unsur  yang berlaku bagi kedua belah pihak yaitu sebenar-benar ilmu adalah unsur pikiran (apriori) dan unsur pengalaman (sintetik) sehingga disebut dengan sintetik apriori.
Dalam filsafat juga mengenal transenden yang disebut transendentalisme. Menurutnya pemikiran itu ada yang di atas, dan adapula ada yang di bawah. Dari bawah berdasarkan persepsi, kesadaran, dan imajinasi sedangkan yang paling bawah adalah sensasi. Itulah proses lahirnya pengetahuan. Adapun bentuk formal (formalisme), logika (logicism), koheren (koherenisme), korespondensi. Sehingga sampailah pada elegi yang disebut "bendungan comte”. Auguste Compte adalah orang berkebangsaan Perancis, mahasiswa politeknik namun dia telah di drop out karena pada dasarnya dia tidak suka menghitung, dia lebih suka menulis. Sehingga dari menulis lahirlah buku dengan aliran filsafat Positivisme. Beliau menjelaskan bahwa tidak menggunakan agama karena irrasional. Diatas agama, terdapat filsafat, diatasnya lagi terdapat Positivisme (saintifik). Jadi, kurikulum 2013 saat ini didefinisikan kemenangan Auguste Compte.
Kurikulum 2013 itu berbasis spiritualisme, Auguste Compte menganggap itu irrasional. Struktur filsafat itu adalah material, formal, normatif, dan spiritual. Spiritual merupakan hal tertinggi dan paling penting dalam berfilsafat. Sehingga dalam struktur filsafat digambarkan dari yang rendah, yaitu archae (masyarakat batu), tribal (sebenar-benarnya tribal adalah dewanya batu), kemudian tradisional, feudal, modern, post modern, dan yang paling atas yaitu power now. Sehingga dapat kita bayangkan kondisi negara Indonesia saat ini dalam konteks luas, negara, ideologi, jati diri yang kecil. Setiap hari dibanjiri pengaruh dari luar yang seringkali sulit sekali ditolak. Sehingga berdampak kita tidak memiliki jati diri. Tetapi jika mempunyai jati diri maka presiden harus memiliki spiritual dan berkarakter. Adapula presiden yang sudah terlena dengan kekuasaan sampai-sampai ingin menjadi presiden seumur hidup. Beliau menggambarkan adanya gunung-gunung dan pantai, kita diibaratkan ikan yang sedang berenang di lautan. Yang diatas lahir ilmu-ilmu dasar naturalisme dll sedangkan dibawah adalah ilmu -ilmu humaniora. Secara tidak sadar Indonesia telah digerogoti oleh ilmu humaniora. Mereka mengambil kesempatan untuk pribadi dan golongan contohnya pejabat. Maka pejabat sekarang juga sesuai keinginan sendiri serta menterinya pun juga seperti itu.
Adapun para pejuang dunia yang ditopang oleh kapitalisme, pragmatisme, utilitarianisme, hedonisme, liberalisme. Sesuai paham itu, para pemimpin dipilih dari universitas, bukan dari latar belakang pendidikan. Dengan belajar filsafat, diibaratkan semua limbah mengalir ke laut, tidak mau diproduksi oleh powernow. Ibaratkan air laut sudah banyak tercemar, maka orang-orang seperti kita tidak berani untuk mengungkapkan pendapat secara langsung, nantinya akan berdampak pada stabilitas. Filsafat itu membangun diri sendiri, berbeda dengan politik yang harus mengumpulkan banyak orang. Saat ini yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan terhadap ruang dan waktunya. Saat ini dalam dunia pendidikan sedang diterapkan "bela negara". Menurut Bapak Marsigit, bela negara itu berdimensi dan berstruktur. Bela negara harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalkan, menggambarkan suatu peristiwa dengan berfilsafat dengan bahasa yang lain. Salah satu cara menngungkapkannya yaitu dengan elegi. Elegi itu menggambarkan anti tesis agar berpikir dan tidak terjerumus ke dalam hidup yang parsial. Dalam bela negara, bisa melalui tulisan contohnya berelegi. Filsafat memiliki banyak perangkat sehingga kita bisa menerapkan bela negara dengan berbagai cara. Terdapat salah seorang mahasiswa yang menanyakan perihal  kurikulum 2013, "Kita harus selalu berinovasi dalam proses pendidikan. Sedangkan materinya banyak sekali. Bagaimana caranya agar dalam kurun waktu yang sediakan cukup untuk menyampaikan materi?". Bapak Marsigit menjawab, "Coba contoh pembelajaran saya, saya menciptakan inovasi dengan blog elegi. Dengan begitu, materi tersampaikan semua. Ini merupakan contoh pembelajaran juga untuk mahasiswa". Meninjau kembali bahwa pernyataan "kurikulum 2013 adalah kemenangan Auguste Compte. Mengapa spiritual itu masih ada di dalam kurikulum 2013?". Bapak menjawab, "Dengan ontologi saintifik, mereka, para pejabat tidak ingin mengungkapkan pernyataan yang tinggi padahal pada kenyataan sejarahnya seperti itu, Positivisme adalah kemenangan Auguste Compte, mereka tidak mengakuinya, mereka hanya mengungkapkan bahwa tatap masa depan saja, sehingga negara tidak mengetahui sejarah negaranya jadi berkarakter lemah, maka metode saintifik itu mengamati dan menanya itu tidak punya makna. Dalam kenyataannya, pada scientific methods yang mana isinya mencantumkan hipotesis. Di Indonesia, struktur "menanya" dalam scientific methods diibaratkan untuk membuat hipotesis. Sebenar-benarnya hipotesis itu diterima atau ditolak dengan percobaan. Ternyata pimpinan canggung, pakarnya juga canggung. Kurikulum 2013 itu dianggap masih mitos, untuk itu filsafat digunakan untuk memerdekakan diri dari kesemena-menaan dari kepala sekolah, pemerintah dll”.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus membangun dunia kita sendiri, membangun pikiran kita sendiri dengan didasari oleh spiritual dan tetap sopan terhadap ruang dan waktu. Sadar akan apa yang terjadi pada dunia, negaramu dan terlebih lagi pada keadaan sekitar. Berpikir setinggi-tingginya, agar tidak terjebak ke dalam mitos dan parsial. Dalam dunia   pendidikan kita gunakan ilmu dan pengetahuan sebaik-baiknya untuk mewujudkan dunia yang solid dan kuat yang mampu berpegang teguh pada ciri khas kepribadian bangsa dan negaranya (memiliki jati diri yang sesungguhnya).

Rabu, 04 November 2015

FILSAFAT PERTEMUAN KEENAM



Filsafat Ilmu Pertemuan ke – 6
“Mencoba Memahami Diri melalui Filsafat”

Rabu, 28 Oktober 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk mengikuti tes tanya jawab singkat. Tes ini seperti biasa, dengan pertanyaan sebanyak 50, dan dijawab secara langsung dalam waktu beberapa detik. Kemudian, kami mencocokkan jawaban dengan jawaban bapak Marsigit. Pertama, kami membahas tentang nihilisme dan fallibisme. Nihilisme itu ada atau tidaknya terikat dengan ruang dan waktu. Jika Fallibilisme itu benar adanya atau benar sesuai kenyataannya. Kemudian tidak memikirkannya secara mendalam. Filsafat bersifat intensif dan radikalisme. Pertanyaannya mudah saja seperti materialnya pikiran, pikiran dimaterialkan dalam bentuk alat hitung maupun buku. Pikirannya material berarti dibentuk dalam hukum-hukum yang terjadi. Materialnya formal adalah bentuk wadah. Kemudian formalnya material, adalah (misalnya) batu peresmian. Fallibisme artinya jika menjawab salah tetap bernilai benar. Contohnya jika anak kecil ditanya tentang suatu rumus matematika, tetapi anak kecil itu menjawab belum diajari maka jawaban anak kecil itu benar. Terkait dengan radikalisme, "radik" adalah akar, tidak peduli baik maupun buruk. Metode berfilsafat itu intensif dan ekstensif. Artinya cabang dari ilmu filsafat tersebut, karena gerak-gerik dan perilakunya sehingga seakan- akan radikalisme itu negatif. Itulah yang disebut dengan stigma. Karena itu tergantung siapa yang mengatakannya. Jika mengatakan itu terus menerus berarti terjebak di dalam mitos, maka kita berfilsafat agar kita bisa mengubah mitos menjadi logos. Dan sebenar benar logos tidak dalam keadaan diam. Dan tidak dalam keadaan diam, masih disintesiskan antara tesis dan anti-tesis. Jika seseorang berada di dalam zona nyaman itu namanya tidak berpikir. Namun tidak mungkin bagi manusia itu tidak berpikir setiap harinya, kita selalu menemukan sesuatu yang baru.
Kemudian dibuka sesi tanya jawab. Berikut pertanyaan dari beberapa mahasiswa beserta jawaban Bapak Marsigit. "Sejauh mana bijak diri dengan bijak pemerintahan?”, Bapak menjawabnya, "Bijak diri itu maksudnya adalah sopan santun diri sendiri yang sesuai dengan ruang dan waktu. Contohnya, Saya menggunakan kemeja batik ketika perkuliahan, bukan menggunakan kaos atau sandal jepit, itulah tidak sopan terhadap ruang dan waktu. Maka sebenar-benar bijak adalah pengetahuan itu sendiri. Orang barat menganggap orang bijak itu yang memiliki pengetahuan, semakin ke timur orang bijak itu tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga memiliki hati nurani. Maka sebenar-benarnya bijak menurut orang barat, adalah orang yang berilmu. "Bagaimana caranya orang yang berilmu berpikir multidimensi dan berpikir dengan bijak?", Beliau menjawab, "Manusia itu suka dan tidak suka menembus ruang dan waktu, tumbuhan, maupun batu pun menembus ruang dan waktu. Semua kata benda saja berawal dengan kata "hari ini, hari esok, dua tahun yang lalu". Kan tidak ada benda yang alergi terhadap ruang dan waktu. Belajar itu mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada, maka setiap yang ada mewakili dunianya. Contohnya, satu kata "ayam", maka bisa dikatakan dunia ayam bahkan bisa membuat buku yang isinya hanya tentang ayam. Setiap kau bisa mengadakan yang mungkin ada, maka bisa meningkatkan satu level dalam dirimu (tergantung keikhlasan)".
Pertanyaan selanjutnya "Mengapa pikiran itu sulit menggapai hati, dan pikiran itu sulit untuk diungkapkan?", Beliau dengan senang hati menjawab pertanyaan tersebut,"Dalam persoalan filsafat itu ada 2, menjelaskan apa yang kau ketahui? yang kedua memahami apa yang ada di pikiranmu? Semua jawaban itu tidak ada yang memuaskan karena itu bersangkut paut dengan ontologisnya, karena manusia itu bersifat terbatas, manusia itu tidak mampu menuliskan semua pikirannya. Tidak akan mampu memikirkan semua relung hati. Karena itulah manusia itu bisa hidup. Perasaan dan pikiran itu lebih luas daripada laut. Hati itu seluas ciptaan Tuhan jika dikehendaki oleh Tuhan. Kita bisa berempati kepada semua makhluk Tuhan. Itulah keterbatasan manusia. Sebagai contoh ketika kita berdoa, pikiran kita harus berhenti. Itulah yang dinamakan ikhlas. Doa yang paling tinggi levelnya adalah dengan menyebut namanya Tuhan. Masalahnya, bermilyar - milyar dirimu menyebut namaNya, belum tentu semuanya dikabulkan.
"Filsafat itu luas, maka adakah filsafat untuk orang-orang atheisme?". Beliau menjelaskan,"Saya katakan filsafat itu diri kita masing-masing, diri kita masing-masing itu siapa? diriku dirimu? Karena filsafat itu diriku dirimu, maka mengambil formula bahwa filsafat itu didasari oleh spiritual sehingga tidak melenceng dari spiritualitas masing-masing. Belum tentu mereka punya Tuhan, filsafat itu olah pikir yang refleksif dan menjawab pertanyaan "mengapa". Berfilsafat itu metafisika setelah yang fisik. Contohnya jiwamu, modalmu, karyamu dst. Siapakah sebenar-benarnya saya, diberi waktu yang banyak aku tidak bisa menyebut diri saya. Semakin ke bawah semakin plural, semakin ke atas semakin mono, yaitu kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Semakin ke atas adalah semakin identitas, semakin ke bawah itu kontradiksi. Maka yang kontradiksi para daksa, yang identitas para dewa. Jangan salah paham, ayam itu dewanya cacing, namun cacing tidak bisa melihat kesalahan ayam. Dalam pendidikan, sebenar-benarnya guru adalah fasilitator. Momok dalam siswa saat ini adalah matematika, namun yang sebenarnya momok adalah guru itu sendiri. Sedangkan guru tidak menyadari bahwa dirinya yang banyak memakan ruang dan waktu. Kesimpulan yang dapat kita ambil dari pembahasan di atas adalah manusia terikat pada ruang dan waktu, dan sesuatu yang bisa dikatakan benar, memang seperti itulah kenyataannya yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Jadilah orang yang bijaksana terhadap ruang dan waktu, bijak tergantung juga terhadap hati dan pikiran, manusia tidak bisa menggapai hati dan pikiran karena manusia pada dasarnya terbatas. Namun dari itu semua manusia dapat dan dikatakan hidup. Dalam hidup menyeimbangkan antara hati dan pikiran yang bersih sehingga tumbuhlah keikhlasan, hati dan pikiran yang bersih tercapai dengan ikhtiar kita pada-Nya. Maka disamping meningkatkan ilmu penting pula meningkatkan spiritualitas.

Selasa, 03 November 2015

FILSAFAT PERTEMUAN KELIMA



Filsafat Ilmu Pertemuan ke 5
“Sekilas Penjelasan”

Rabu, 21 Oktober 2015 perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 gedung FMIPA UNY pukul 07.30. Bapak Marsigit memasuki ruangan, kemudian kami diminta untuk bersiap - siap untuk mengikuti tes tanya jawab singkat. Tes ini seperti biasa, dengan pertanyaan sebanyak 50, kami menjawabnya secara langsung dalam waktu beberapa detik. Kemudian, kami mencocokkan jawaban dengan jawaban bapak Marsigit. Kami membahas tentang salah dan benar dalam filsafat. Salah dan benar itu hanya satu titik kecil dalam filsafat. Benar dan salah itu diposisikan dalam keseluruhan daripada membangun pola pikir dalam berfilsafat. Unsur benar dan salah itu adalah suatu struktur yang ada di dalamnya. Contoh, ketika kami tes jawab singkat, awal dari kata-kata bapak sudah menyebutkan kata "wadah". Yang artinya, semua yang ada di dalamnya merupakan tentang wadah, sehingga filsafatnya tentang wadah juga. Benar dan salah itu sebanyak pikiran para filsuf. Pandangan yang menyatakan yang benar itu yang tetap menurut Fermelides. Heracritos menyatakan bahwa yang benar itu adalah yang berubah. Jadi, wadah, batu, manusia, salah, benar, itu semua menjadi "yang ada" dan "yang mungkin ada"dimana yang menjadi kajian dalam berfilsafat.
Filsuf pertama hingga saat ini selalu saja "yang benar" itu yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Benarnya matematika itu konsisten, benarnya pengalaman itu kecocokan, benarnya logika itu konsisten, benarnya para dewa itu transenden, dan benarnya Tuhan itu absolut. Itulah perbedaan ruang dan waktu. Sesuai dengan Fermelides, kita bisa melihat apa yang tetap dalam diri kita. Salah dalam filsafat itu ketika tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Contoh riil yang terjadi di sekitar kita, ketika kita bertanya pada guru matematikahasil dari 5x4 pasti akan dijawab 20 tetapi lain halnya ketika kita bertanya pada penjual tanah 5x4 hasilnya 2500000. Contoh tersebut menggambarkan bahwa kita harus adil dengan "yang ada" dan "mungkin ada" di dalam pikiran kita. Dalam hal ini, jika salah memutuskan dalam pandangan filsafat adalah tidak sopan terhadap ruang dan waktu. Untuk itu dalam hidup kita juga harus bijaksana terhadap ruang dan waktu dengan dilandasi spiritual. Landasan spiritual bertujuan untuk membahagiakan kita lahir dan batin, dunia dan akhirat. Manusia memiliki akal dan pikiran dituntun oleh spiritual berbeda dengan yang lain. Jika binatang dituntun dengan instingnya, sedangkan batu memiliki potensi. Maka manusia itu fatal dan vital, fatal merupakan kodratnya, vital merupakan potensinya. Potensi manusia adalah ikhtiar. Manusia memiliki potensi, naluri, dan insting sehingga manusia memiliki intuisi, jika manusia cerdas, maka itu semua ditambah dengan kompetensi. Dalam filsafat, ada yang disebut skeptisme. menghindari skeptisme itu tidaklah bisa. Lebih baik membangun dunia yang komprehensif yang memiliki solusi dengan ilmu filsafat yang kita pelajari, daripada menghindar. Persoalan itu harus dihadapi dan diselesaikan dengan hati dan pikiran yang bersih, bukan malah dihindari.
Bagi seorang filsuf yang hebat tidak akan mengakui bahwa dirinya adalah seorang filsuf. Seseorang yang mengaku sebagai filsuf, bisa saja itu adalah penipu. Nilai kebajikan seorang filsuf sama seperti seorang kiai terkenal. Bahkan, filsuf yang paling hebat pun merasa sedang belajar filsafat. Yang mengatakan adalah orang lain. Daripada bertanya, lebih baik mempelajari pendapat-pendapat para filsuf. Berfilsafat itu "meta" di sebaliknya yang tampak. Tidak untuk anak kecil tetapi orang dewasa juga perlu sopan terhadap anak kecil dan orang hamil.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa benar dan salah dalam filsafat itu adalah sesuai, serta sopan terhadap ruang dan waktu. Selain sopan terhadap ruang dan waktu, manusia perlu membangun potensinya untuk membangun dunia yang komprehensif dan cerdas dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan tanpa menghindarinya. Seorang filsuf bukanlah yang mengakui dirinya sendiri, namun seorang filsuf itu sebutan untuk orang yang menggagas pendapatnya, sehingga ada orang yang menanggapi dan menyetujui serta ada pula yang membantahnya, itulah sebenar-benarnya berfilsafat. Dalam menghadapi persoalan, kita memerlukan landasan yaitu filsafat dan spiritual. Dua landasan tersebut dijadika pedoman untuk kita mendapat arah dan tujuan yang jelas, seimbang antara dunia dan akhirat.

 

Blogger news

Blogroll

About