REFLEKSI KULIAH FILSAFAT PERTEMUAN KEDUA
Rabu, 16 September 2015 jam 07.30-09.10 di
ruang PPG 1 Laboratorium Matematika FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta
berlangsung perkuliahan Filsafat Ilmu,
dengan dosen pengampu Bapak. Prof. Dr. Marsigit, M.A. Seperti pada pertemuan
sebelumnya, mahasiswa diminta untuk merekam apa yang disampaikan.
Setiap
perkuliahan, beliau selalu menyampaikan materi dengan cara mengkaitkan materi
tersebut dengan kehidupan nyata. Pada perkuliahan ini, beliau menceritakan
pengalamannya mengendarai kendaraan di jalan raya. Beliau menyampaikan bahwa di
jalan raya berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Kita harus
bisa menyesuaikan ritme di jalan, karena dimanapun kita berada harus berhati-hati
begitu juga di jalan. Hal tersebut ibarat isi dan wadah, dimana isi
menyesuaikan wadah, wadah terpengaruh oleh isi. Di jalan raya, kendaraan adalah
wadah sedangkan pengendara adalah isi. Hidup merupakan interaksi antara wadah
dan isi.
Dalam
hidup kita berusaha untuk mengerti walaupun sadar tidak akan pernah sempurna
memahaminya karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Oleh karena ada ketidaksempurnaan
dalam kesempurnaan, manusia menemukan hakekat kehidupan. Kita harus bersyukur
dengan ketidaksempurnaan yang dimiliki. Beliau menyampaikan bahwa janganlah
kita bercita-cita yang tidak sesuai dengan kodratnya.
Di dunia berlaku hukum
sebab akibat, setiap apa yang dilakukan pasti ada penyebabnya dan pasti juga
ada akibat sebagai konsekuensi dari perbuatan itu. Beliau juga menyampaikan
bahwa sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara idealis dan realis.
Menurut Plato idealis itu sesuatu yang ada di dalam pikiran dan menurut
Aristoteles realis itu sesuatu yang tidak ada, tidak bisa dilihat, tidak bisa
disentuh. Objek filsafat terdiri dari ada dan yang mungkin ada, disampaikan
dengan bahasa analog karena bahasanya lebih tinggi dari kiasan dan bisa
menembus ruang dan waktu. Yang mungkin ada bisa menjadi ada dengan cara
dikenali beberapa sifat dari sekian milyar sifatnya yang ada. Dalam istilah
Jawa, hidup itu manunggaling kawula Gusti
artinya bersatunya Sang Pencipta dengan yang diciptakan, bersatunya objek
dengan predikat, seperti wadah dan isi meskipun tidak akan pernah wadah sama
dengan isi. Begitu banyak kejadian atau pengalaman hidup yang bisa dijadikan
pelajaran, beliau menyampaikan bahwa metode pembelajaran yang baik adalah
metode hidup.