Rabu, 21 Oktober 2015

Filsafat Ilmu Pertemuan ke 4



Filsafat Ilmu Pertemuan ke 4 

Rabu, 7 Oktober 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di ruang PPG 1 LAB FMIPA UNY pukul 07.30. Hari ini diadakan tes jawab singkat yang ketiga. Setelah itu, beliau mempersilahkan kami untuk bertanya secara langsung tentang hal-hal yang belum dimengerti dalam filsafat atau tentang hal lainnya. Seperti biasa beliau selalu menyampaikan bahwa apa saja yang akan kita pertanyakan semuanya sudah ada jawabannya dalam tulisan-tulisan beliau di blog. Oleh sebab itu, beliau sekali lagi memberikan peringatan pada kami untuk banyak-banyak membaca tulisan beliau. Menurut beliau berfilsafat itu berhirarki mulai dari yang paling rendah: material,dilingkupi oleh bentuk formal, dilingkupi oleh normatif, dan dilandasi oleh spiritualisme. Dalam pandangan lain, dari yang rendah adalah Pluralism menuju tunggal, tunggal itu adalah esa. Jadi, semua itu tercakup dalam kekuasaan-Nya. Jadi semua kegiatan yang kita lakukan adalah kuasa Tuhan. Tetapi hal tersebut masih belum sepenuhnya menjelaskan keadaan tersebut karena belum sesuai dengan ruang dan waktunya. Kehidupan itu bersifat plural, kita sendiri pun masih bersifat plural. Sebagai contoh seorang guru mengajar di suatu kelas, mengajarkan siswanya harus sesuai dengan keinginannya, maka itu tidaklah mungkin bisa. Akibatnya akan  mempersulit diri sendiri.
Dalam berfilsafat kita mencari kebenaran. Ada kebenaran absolut adalah kebenaran yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Manusia dapat membuat kebenaran absolut, tetapi hanya bersifat konsisten. Konsisten yang diartikan sesuai dengan kesepakatan. Jika tidak sesuai dengan kesepakatan maka akan dianggap salah. Contohnya, ketika kita belajar berhitung matematika bahwa 3x4=12 tetapi lain halnya ketika kita mendapati 3x4=34.000. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita harus mempelajari ilmu harus sopan terhadap ruang dan waktunya. Demikian pula dalam kehidupan keseharian kita. Jika kita ingin keinginan kita terkabul maka kita harus sopan terhadap tata cara atau aturan untuk mencapainya yaitu perlu adanya keseimbangan antara berdoa dan berusaha. Berdoa merupakan fenomena siklik. Jika hanya berusaha saja maka akan melampaui batas tanpa arah yang jelas. Berdoa adalah penting agar tidak melewati batas arah dalam hidup. Setiap orang memiliki intuisi agar intuisi tetap terjaga maka perlu adanya sebuah norma. Salah satu norma dalam hidup adalah agama. Selain berusaha, kita diharuskan untuk berdoa. Mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan-Nya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaik-baiknya hidup adalah dengan pikiran dan hati. Dengan pikiran kita dapat mengembangkan ilmu , dengan hati yang ikhlas dalam berusaha agar bermanfaat di dunia dan akhirat. 

 Sri Suryaningtyas (15709251075_PPs PMat B)

2 komentar:

 

Blogger news

Blogroll

About