Filsafat Ilmu Pertemuan ke 4
Rabu, 7 Oktober 2015, perkuliahan Prof. Marsigit di
ruang PPG 1 LAB FMIPA UNY pukul 07.30. Hari ini diadakan tes jawab singkat yang
ketiga. Setelah itu, beliau mempersilahkan kami untuk bertanya secara langsung
tentang hal-hal yang belum dimengerti dalam filsafat atau tentang hal lainnya. Seperti
biasa beliau selalu menyampaikan bahwa apa saja yang akan kita pertanyakan
semuanya sudah ada jawabannya dalam tulisan-tulisan beliau di blog. Oleh sebab
itu, beliau sekali lagi memberikan peringatan pada kami untuk banyak-banyak
membaca tulisan beliau. Menurut beliau berfilsafat itu berhirarki mulai dari
yang paling rendah: material,dilingkupi oleh bentuk formal, dilingkupi oleh
normatif, dan dilandasi oleh spiritualisme. Dalam pandangan lain, dari yang
rendah adalah Pluralism menuju tunggal, tunggal itu adalah esa. Jadi, semua itu
tercakup dalam kekuasaan-Nya. Jadi semua kegiatan yang kita lakukan adalah
kuasa Tuhan. Tetapi hal tersebut masih belum sepenuhnya menjelaskan keadaan
tersebut karena belum sesuai dengan ruang dan waktunya. Kehidupan itu bersifat
plural, kita sendiri pun masih bersifat plural. Sebagai contoh seorang guru mengajar
di suatu kelas, mengajarkan siswanya harus sesuai dengan keinginannya, maka itu
tidaklah mungkin bisa. Akibatnya akan mempersulit diri sendiri.
Dalam berfilsafat kita mencari kebenaran. Ada
kebenaran absolut adalah kebenaran yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Manusia
dapat membuat kebenaran absolut, tetapi hanya bersifat konsisten. Konsisten
yang diartikan sesuai dengan kesepakatan. Jika tidak sesuai dengan kesepakatan maka
akan dianggap salah. Contohnya, ketika kita belajar berhitung matematika bahwa
3x4=12 tetapi lain halnya ketika kita mendapati 3x4=34.000. Hal tersebut
menunjukkan bahwa kita harus mempelajari ilmu harus sopan terhadap ruang dan
waktunya. Demikian pula dalam kehidupan keseharian kita. Jika kita ingin
keinginan kita terkabul maka kita harus sopan terhadap tata cara atau aturan
untuk mencapainya yaitu perlu adanya keseimbangan antara berdoa dan berusaha. Berdoa
merupakan fenomena siklik. Jika hanya berusaha saja maka akan melampaui batas
tanpa arah yang jelas. Berdoa adalah penting agar tidak melewati batas arah
dalam hidup. Setiap orang memiliki intuisi agar intuisi tetap terjaga maka perlu
adanya sebuah norma. Salah satu norma dalam hidup adalah agama. Selain
berusaha, kita diharuskan untuk berdoa. Mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan-Nya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaik-baiknya hidup adalah dengan pikiran dan
hati. Dengan pikiran kita dapat mengembangkan ilmu , dengan hati yang ikhlas
dalam berusaha agar bermanfaat di dunia dan akhirat.
Good Reflection
BalasHapusGood Reflection
BalasHapus